Tampilkan postingan dengan label #1HARI1AYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #1HARI1AYAT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Saling Melindungi..

Diposting oleh Eka Suzanna di 15.16 0 komentar

 




Beberapa waktu kemarin (beberapa hari lalu lah), aku baca tafsir al-Qur'an, dan ketemu dengan surah Al-Anfal ayat 72. Yang bunyinya begini:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka.


Aku langsung JLEB! Terpaku membacanya...

Beberapa saat aku terdiam sejenak mengulang membaca ayat itu... dan kemudian mencatatnya dalam notes (aku punya kebiasaan selalu menulis terjemahan ayat yang 'memberikan suatu pengajaran' untukku). Aku langsung teringat pada salah satu komentar 'menohok' di salah satu postingan Pak Edy yang kubaca beberapa hari sebelumnya, sebelum aku menemukan tafsiran ayat ini.



Benar..... 
Ayat yang aku baca itu langsung menghubungkan ingatanku pada komentar yang satu itu.
Benar-benar jleb...

Tahu nggak apa hubungannya?

Sebelum itu mari kita coba simpulkan apa maksud dari surah Al-Anfal 72 itu.
  • Hendaklah kita (kaum mukmim) saling melindungi satu sama lain 
  • Kita wajib memberikan pertolongan kepada seseorang atau suatu kaum yang membutuhkan pertolongan terkait dengan pembelaan agama 

Kalau dijelaskan secara lebih luas lagi, lebih gaul lagi, itu sudah sangat jelas maksudnya bahwa kita mesti saling melindungi, apalagi kalau berurusan dengan pembelaan agama! Sedangkan, apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang (yang mengaku) mukmin, ialah ya..seperti pak Edy itu. Mencela, menghujat, sekalipun ada yang niatnya mungkin benar bermaksud mengkoreksi, mengkritik, atau apalah itu... tapi seringkali penyampaiannya salah. Ya seperti cara Pak Edy itu. Menggunakan media terbuka untuk 'menyerang'. Padahal dia muslim, yang dia 'serang' juga muslim, dan topik yang didebatkan adalah termasuk dalam 'pembelaan agama'. Kan Felix itu bisa dibilang termasuk golongan muslim yang inshaAllah berusaha berdakwah dengan tujuan 'menolong' agama di jalan Allah, yang sebenarnya itu bagus kan. Sangat bagus. (Kalau masalahapa yang disampaikannya ada yang salah atau tidak, yang penting kan niatnya dulu). Jadi itu termasuk 'pembelaan agama'. Dan jelas-jelas dalam ayat di atas Allah menyatakan langsung, bahwa muslim harus saling tolong menolong, terutama dalam kasus 'pembelaan agama'. Sedangkan apa yang dilakukan Pak Edy dan muslim kebanyakan (termasuk saya)? Menghujat terang-terangan, mengkritik dengan kata-kata kasar, menegur dengan cara terbuka dan tak beradab, bersikap pongah.. masing-masing merasa dirinya paling benar, paling betul, paling beriman, paling baik akhlaknya dll. Yah, begitulah....

Dan di sini aku menyadari, kenapa kita, penganut agama islam masih sering kalah dengan non muslim.. atau bisa dibilang para kafir (yang suka terang-terangan merendahkan islam dan mencari-cari cela untuk menghujat). Ya itu, sudah jelas, karena kita itu tak pernah saling menolong. Kita malah saling menjatuhkan dengan argumen masing-masing, dengan perasaan merasa paling benar. Nggak malu ditertawakan sama para kafir? Kalau saya jadi mereka, saya pasti akan bilang.. 'hahahahaha... sendirinya aja sesama muslim suka saling menyalahkan, saling menuduh, saling menghujat, masih merasa kalau islam itu agama yang paling benar? hahahahah!'. Ya, bisa dibayangkan.

Sedangkan, para kafir itu selalu saling 'tolong-menolong' loh. Mereka bersatu padu untuk menjatuhkan islam. Bisa dilihat kan, kalau ada perdebatan antara muslim dan non muslim, itu mereka pada kompakan semua, nggak peduli si A ngomongnya bener apa kagak, selama masih di jalur mereka, yaitu sama-sama bertujuan mencela islam, mereka akan iya-iya saja kompak menyoraki. Salah atau benar, pokoknya selama itu berbunyi celaan untuk islam,mereka pasti OKE, senang-senang aja! Gitu, tuh.

Nggak percaya? Coba aja sesekali jadi abg labil, ikut terjun debat agama sama para kafir di twitter, .. coba.

Saya sudah pernah. Dulu, waktu tahun 2012, masih abg labil nggak jelas jadi suka ngikut-ngikut hal-hal nggak jelas macam tu. Bukan karena ikut-ikut sih sebenarnya, tapi emang aku emosi beneran kalau Agama, Tuhan, dan Rasulku dihina-hina itu sakitnya di SINI!! *nunjuk dada*, terus akhirnya aku kebawa emosi deh naik pitam dan ikut komentar, yang pada akhirnya aku sadari itu perbuatan yang sia-sia karena hanya bikin mereka kesenangan, karena sebenarnya apapun pembelaan kita, bagi mereka itu hanyalah hiburan. Mereka pokoknya emang senang aja ngehina-hina. Mereka debat bukan karena cari pembenaran, tapi cuma untuk ngata-ngatain aja.Apapun kata kita, mereka akan tetap kafir sampai kapanpun. Tapi, bukan di situ poinnya.. Poin yang aku maksud di sini, bahwa.. coba lihat. Kalau kita debat, itu mereka kompak banget. Benar-benar kompak! Beda dengan kita yang saling menjatuhkan bila ada perbedaan pendapat. Nah, di sinilah yang membuktikan apa maksud dari surah al-Anfal ayat 73.


Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal, 8:73)

 
Nah, nangkap maksudnya?

Itu emang sudah jelas. Terbukti. Ayat itu terbukti! Subhanallah... dan itu firman Allah, langsung dari-Nya.

Allah bahkan sudah menyatakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa sebagian orang kafir itu saling melindungi sebagian yang lain. Dan itu terbukti, terpampang nyata! Kita bisa lihat. Dan, jika kita (para muslim) tidak saling melindungi juga seperti apa yang dilakukan para kafir itu, maka seperti firman Allah tersebut, Niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. Dan itu pun sudah terbukti! Bahkan nggak perlu nunggu bukti pun sebenarnya itu sudah bisa kita bayangkan,.. bahwa untuk melawan sekelompok kaum besar yang saling gotong royong itu, kita juga harus bersatu padu untuk bisa mengalahkan mereka. Teori itu juga anak SD pasti tahu! Tapi yang ada, mereka bersatu, kita terpecah belah. Ya kan? Kebayang kan apa jadinya kalau sudah begitu.....

Aku jadi miris sendiri. Tapi apa mau dikata... sepertinya emang sudah begitu takdirnya. Sampai zaman kapanpun, para muslim, para kaum mukmin.. takkan pernah bisa bersatu padu seperti para kafir. Akan terus terpecah belah dengan keegoan masing-masing, prinsip masing-masing, merasa diri paling benar, paling lebih tinggi ilmunya, dll..

Sangat miris.

Andai semua kaum muslim mau membaca al-Qur'an dan mengamalkannya..  jangan hanya ilmu agama saja yang ditinggikan, tapi mengamalkannya NOL.

Harusnya, kalau diantara para mukmin ada perselisihan, tegurlah baik-baik.. bukankah kita bersaudara? Bersaudara itu adalah saling menasehati, bukan saling mencela..

Bahkan menasehati saja ada aturannya dalam Al-Qur'an, jangan menasehati di depan publik, karena itu sama saja dengan membuka aib saudara kita yang sesama muslim. Kalau sudah begitu, hilanglah amalan 'saling melindungi' itu.. :) How, Pak Edy?










Rabu, 15 Oktober 2014

Me and ODOJ :)

Diposting oleh Eka Suzanna di 08.51 0 komentar


            Sudah dari lama sebenarnya aku tahu tentang kegiatan ODOJ ini. Tahu, tapi juga tak benar-benar tahu. Hehe.
            Dulu, sering beberapa kali aku melihat status orang (yang biasanya ibu-ibu gaul, tapi islamic), update di jejaringan sosialnya tentang kegiatan ODOJ yang ia jalani bersama rekan-rekannya. Nah, dari saat itu aku mulai mengerti sedikit, bahwa ODOJ ini kepanjangannya adalah One Day One Juz, yang kegiatannya adalah membaca Al-Qur’an. Tapi, Cuma sebatas itu saja yang aku tahu saat itu, selebihnya aku tak paham, dan tak berniat juga cari tahu. Aku sama sekali tak penasaran dan tak ada minat, haha, saat itu, ya!
            Sepertinya sejak itu aku sering mendengar selentingan, atau selewat saja tentang ODOJ, tapi ya udah, lewat aja. Aku tak ambil pusing. Bahkan sampai dengar ada artis-artis yang juga ikut berkecimpung dalam kegiatan ini, makin ramai lah yang promosi ODOJ sambil menggembar-gemborkan bahwa si artis-artis ini ikut, yang maksudnya, artis-artis aja pada join loohh, masa kamu nggak?
            Aku tetap cuek.
            Waktu berjalan, dan terus berjalan lamaaa.... sampai akhirnya bulan lalu, aku tak akan ceritakan detailnya, tapi aku merasa saat itu seperti aku diberikan petunjuk oleh Tuhan. Aku dipanggil-panggil untuk mendekat padanya, dan terus dituntun perlahan. Membuat aku semakin hari semakin ingin mendekat padanya, seakan-akan kini mata dan hatiku dibuka begitu lebar. Aku yang selama ini buta dan tuli, kini seakan-akan benar-benar melihat dan mendengarkan-Nya, tepatnya segala perintah dan larangan-Nya.  
            Mau nangis kalau menulis bagian ini.... ehe :’)
            Hm.. mau nangis kalau ingat aku yang dulu, di bulan-bulan sebelumnya. Mungkin orang akan terkejut kalau tahu... Aku selama ini tak pernah menjalankan sholat 5 waktu. Pernah, tapi lebih banyak tidak pernahnya. Terakhir kali aku sholat 5 waktu adalah waktu bulan Ramadhan tahun lalu (bukan yang tahun ini), dan itu juga terakhir kali aku menyentuh Al-Qur’an. Entah kesambet apa aku saat itu (bulan Ramadhan tahun lalu), seakan aku diketuk hatinya, mulai memperhatikan sholat (aku saat itu tak meninggalkan satu sholat pun), dan setiap hari membaca Al-qur’an. Tapi..... tak tahu kenapa, itu hanya bertahan setengah bulan. Tepatnya hingga aku mendapatkan menstruasi. Kan kalau datang bulan, tak boleh sholat, baca Al-Qur’an, dan puasa. Eh.. ternyata bablas sampai lebaran, sampai habis Ramadhan. Bahkan bablas sampai ketemu Ramadhan lagi (Ramadhan tahun ini aku hanya puasa, tapi tak sholat, dan tak baca Al-Qur’an), hingga terakhir sebulan yang lalu, sampai mungkin aku diberi hidayah kalau bahasa kerennya ^^;.
            Aku sih tak pernah tahu apa itu hidayah dan bagaimana bentuknya, dan apakah hidayah itu benar-benar ada, dan bagaimana datangnya. Tapi, yang aku tahu, mata, hati, dan telingaku semuanya kini telah dibuka oleh Tuhan. Tak tau kenapa, sekarang aku selalu haus ilmu agama (terhitung sejak malam aku merasa dipanggil-panggil oleh Tuhan untuk mendekat padanya). Sejak itu aku hampir setiap saat selalu browsing soal agama, apapun itu yang aku ingin tahu. Aku beli buku-buku agama, termasuk buku tentang ilmu paling dasar, yaitu tentang sholat wajib ^^;. Aku haus ilmu agama, dan ingin mempelajarinya dari mulai yang dasar-dasar. Aku tak tahu kenapa, dan ada apa dengan diriku. Tapi, aku tak peduli, dan justru aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan, karena aku merasa menjadi makhluk beruntung yang termasuk dalam golongan diberikan petunjuk olehnya. Niat berhijab pun langsung muncul tepat di malam aku merasa terpanggil itu, hanya saja terealisasinya baru tanggal 10 Sepertember lalu, walau mungkin belum Syar’i sepenuhnya.

            Aku ingin menutup aurat, dan menjalankan sholat 5 waktu, serta lain-lainnya. Kedua hal itu sudah kujalankan sambil aku terus belajar dan mencari hal apa lagi yang perlu aku lakukan.
            Al-qur’an. Aku mendadak haus akan isinya. Selama ini aku tak pernah tahu apa isi Al-Qur’an. Ya... aku tahu, isinya adalah hal-hal baik, dan segala petunjuk dari Tuhan. Tapi, aku tak pernah benar-benar membacanya. Selama ini aku hanya baca tulisan arabnya, tak pernah mau tahu apa maknanya. Jadi, menurutku itu belum bisa dibilang sudah membaca Al-Qur’an. Untuk apa baca Al-Qur’an kalau tak tahu apa yang dibaca, ya kan?
            Aku pun turut memantapkan niat bahwa aku akan membaca Al-Qur’an setiap hari dan memahami isinya. Tapi, aku tahu, sebagai manusia biasa, godaan itu bisa datang kapan saja. Aku sangat tahu, pasti akan ada masanya nanti aku mulai malas membaca Al-Qur’an, alias imanku goyah. Karena aku manusia biasa. Oleh sebab itu, aku segera mau antisipasi. Aku langsung teringat sama grup ODOJ ini. Ingatnya pun tak sengaja.
            Sejak haus ilmu agama, aku rajin follow twitter yang ngetweet tentang agama, sampai akhirnya tak sengaja ketemu lah aku dengan account ODOJ. Aku langsung tertarik untuk bertanya, dan join. Waktu itu aku pikir ODOJ ini adalah kegiatan baca 1 hari 1 juz, seperti yang dulu aku bayangkan. Bertanya lah aku tentang grup dan cara daftar, dan kemudian disuruh isi biodata. Waktu itu tanggal 12 September. Aku sudah isi biodata lengkap, tak ada balasan. Aku tunggu dengan sabar, karena siapa tahu memang di sana ada prosedurnya tersendiri sehingga butuh waktu lama. Eh, sampai hari esok, hari esok, esok, esok, dan seteruusssnya, tak ada kabar sama sekali. Aku mulai tak paham, dan agak gondok. Jujur saja, sempat terbersit, niat nggak sih sebenarnya bikin kegiatan kayak gini? Ada orang mau gabung, tapi kok nggak dilayani??. Aku dianggurin, dicuekin, sama sekali tak ada diurus. Aku sampai bolak-balik baca biodataku yang kukirim via WA, apa yang salah? Tak ada. Semua biodata kutulis dengan lengkap dan sangat jujur. Jadi, kenapa tak direspon??
            Entah... sampai detik ini aku tak tahu sebabnya.
            Sejak itu aku il-feel berat sama ODOJ ini. Ternyata tak sefriendly yang aku pikir. Aku sampai suudzon, bahwa visi-misi mereka yang katanya ingin mengajak banyak orang untuk lebih dekat dan mengenal Al-Qur’an itu (supaya konsisten baca 1 juz tiap hari), sepertinya Cuma kata pengantar saja, alias bualan semata. Karena, aku mau mendaftar tapi tak direspon. Cuma disuruh isi biodata, setelah itu adminnya hilang. Sebenarnya, bisa saja aku bertanya lagi ya, kan? Kenapa tak dibalas, dll. Ya, aku sudah il-feel. Dan menurut aku, bukan aku yang harus ngejar-ngejar dia untuk menanyakan apakah aku sudah terdaftar? Itu kan tugas dan tanggung jawab sebagai admin yang mesti melayani. Yang penting, aku sudah isi biodata, dan harusnya si admin ini memproses diriku, bukan dibiarkan begitu saja.
            Hm.. mungkin kesannya, aku punya penyakit hati yang sangat jelek ya? ^^; Iya, aku tahu... that’s why aku bilang, aku manusia biasa. Aku masih ada rasa emosi, dan penyakit hati yang bisa mendatangiku kapan saja, walau sekarang sudah jauhhh lebih baik dari dulu. Karena, sekarang aku lumayan bisa mengontrol segala penyakit hatiku, dan tiap aku suudzon dan merasa kesal pada admin ODOJ ini, aku langsung istighfar dan memohon pada Tuhan supaya hatiku dijaga, karena sesungguhnya aku tak bermaksud marah atau berpikiran jelek. Aku pun coba berpikir, bahwa mungkin ada alasan tersendiri kenapa si admin tak mengurusku. Mungkin yang daftar banyak, jadinya dia agak kewalahan mendaftarkan satu-satu? Atau apa lah.. Dan ini terpenting, mungkin Tuhan tak izinkan aku untuk masuk grup ODOJ pada saat itu, atau mungkin belum waktunya. Entah lah. Tapi yang pasti aku percaya dan meyakini, selalu ada makna dari semua kejadian kan, yang kadang kita mungkin tak tahu, dan tak perlu tahu juga.
            Aku pun memutuskan tak peduli lagi sama si ODOJ, dan malah berpikir, ya sudah lah.. buat apa juga gabung ODOJ? Toh, kalau mau baca 1 hari 1 Juz juga bisa sendiri, tanpa harus gabung ke grup segala ya kan?? Lagian kalau gabung grup itu, kok kesannya kayak mau banget orang-orang tahu kalau kita baca 1 hari 1 juz? Dan lagi, niatnya jadi nggak bener, dong.. Baca Al-Qur’an itu kan harus ikhlas dan karena Allah, bukan karena gabung ODOJ. Kalau gabung ODOJ, berarti aku khatam bukan demi Tuhan dan diri sendiri, tapi demi grup ini yang mengharuskan aku baca 1 juz tiap hari. Dan berbagai pikiran lainnya,..  karena aku sedang kesal dan juga menghibur diri sendiri dengan meyakinkan bahwa tak guna masuk grup ODOJ. Kalau mau baca 1 hari 1 Juz, tanpa masuk grup ODOJ juga aku pasti bisa, gitu tekadku.
Kemudian aku mulai lupa dengan grup itu, dan sibuk dengan kegiatan yang semakin hari semakin haus ilmu agama. Hadis-hadis dan buku-buku agama kulahap sedikit demi sedikit. Baca Al-Qur’annya? Belum terealisasikan juga (yang katanya mau baca 1 hari 1 juz pasti bisaaa walau Cuma sendiri..), hahahaha.
Sampai suatu hari, aku dapat mention dari mbak Ifha (waktu itu belum kenal), yang bertanya apakah aku sudah tergabung dalam ODOJ, dan apakah aku mau bergabung dengan grupnya?
            Nahhh... aku langsung girang waktu itu, dan berpikir, oh, mungkin menurut Tuhan ini lah waktu yang tepat. Aku pun mengiyakan. Setelah itu langsung chit-chat sama mbak Ifha, isi biodata, dan aku banyak tanya, sebenarnya ODOJ itu bagaimana sistemnya? Karena aku buta sama sekali.
            Dan ternyataaaa.... ODOJ itu adalah kegiatan Tilawah. Yang mana anggotanya 30 orang, dan satu orang tiap hari baca 1 juz, sehingga tiap hari jadi khatam  30 Juz.
            Aku kaget. Hahaha.
            Karena, aku berpikir grup ini baca 1 hari 1 juz, tapi untuk diri sendiri masing-masing, alias misalnya aku baca hari ini juz 1, besok juz 2, dan seterusnya sampai juz 30, lalu aku khatam, dan ulang lagi, lalu khatam lagi, begitu seterusnya. Ternyata ini Tilawah, yang tak beda sih sistemnya, sama saja seperti yang aku pikirkan, hanya saja maknanya jadi beda. Apalagi aku langsung dikasih jatah juz 5, langsung kaget season dua lagi. Aku pikir tadinya aku akan mulai dari awal, Juz 1.. Dan aku memang inginnya itu baca berurutan, tak mau langsung Juz 5. Aku takut, apa baca Al-Qur’an boleh langsung lompat ke juz sekian gitu?
            Aku langsung mencari tahu, apakah boleh baca Al-Qur’an tak berurutan? Dan alhamdulillah.. dari apa yang aku tangkap, sepertinya tak apa, hanya saja dianjurkan kalau bisa bacanya berurutan. Tapi, dari hadis-hadis yang aku baca, aku sering menemukan kalau Rasulullah selalu membaca Al-Qur’an secara acak, alias dia membaca apa yang dia suka atau apa yang ia mau baca saat itu, bahasa kerennya suka-suka beliau. Dan lagi, Rasulullah tak pernah bersabda tentang metode membaca Al-Qur’an (setidaknya belum kutemukan hingga saat ini). Rasulullah tak ada melarang maupun memerintah tentang bagaimana baiknya kita membaca Al-Quran, haruskah berurutan, haruskah 1 hari 1 juz dan lain-lain. Rasulullah hanya pernah bilang, bahwa kita mesti membaca Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, dengan benar (yakni sesuai tajwid-nya), dan beliau pun juga hanya mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an itu berpahala, yang berarti kalau dilakukan adalah suatu kebaikan, bukan suatu kewajiban layaknya sholat lima waktu.
            Dalam Al-Qur’an pun tak ada ketentuan bagaimana kita harus membaca Al-Qur’an. Allah hanya pernah berfirman.. “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil (bertajwid)”[QS:Al-Muzzammil (73)]
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca Al-Quran yang diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap huruf-hurufnya (bertajwid).
Rasulullah juga tak bilang bahwa baca 1 juz, atau pun 1 surah, ataupun 1 ayat adalah baik. Beliau hanya bilang, membaca 1 huruf dari Al-Qur’an, maka akan diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan.
“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
Subhanallah...
Lihat? Tidak ada dikatakan satu juz, satu surah, maupun satu ayat, melainkan satu huruf!! Bayangkan bila kita khatam, sudah berapa huruf yang kita baca, dan berapa kebaikan yang kita peroleh?? Bahkan, baru membaca basmalah setiap mengawali membaca Al-Qur’an dan sebuah Surah, sudah berapa huruf tuh, coba? 19 huruf ya? Nahhh! Yang berarti kita melakukan 19 kebaikan dari hanya dengan membaca basmalah saja, (yang mudah-mudahan dilipat gandakan jadi 190 kebaikan sebaga balasan, amiinn). Apalagi kalau baca 1 juz? Apalagi kalau khatam?? Sudah berapa juta kebaikan yang kita peroleh?? Sudah berapa ratus juta?? Sudah, tak usah hitung, kalkulator sekalipun tak akan mampu menghitungnya.
Subhanallah..
Maka, dari ini sangat menunjukan dengan jelas, bahwa muslim siapapun yang membaca Al-Qur’an, baik paham atau tidak paham, maka dia akan mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan. Dan tak peduli ia baca berapa juz, berapa surah, maupun berapa ayat, yang terpenting adalah berapa huruf Al-Qur’an yang ia baca? Dari ini, aku mengambil kesimpulan bahwa yang dilihat adalah hurufnya. Bukan dari apakah kita membacanya berurutan atau tidak. Kalau memang tak boleh membaca Al-Qur’an secara acak dan mesti berurutan dari juz 1-30, tentu Allah dan Rasul-Nya sudah memberikan sabda ketegasan yang sangat jelas tentang hal ini.
Itu sebabnya, aku yang tadinya ragu, akhirnya benar-benar mantap join grup mbak Ifha. Lagipun aku berpikir, tanpa join grup ODOJ, belum tentu aku membaca Al-Qur’an, karena buktinya sejak dari kemarin niat membaca sendiri, tak kunjung terealisasikan juga ^^; Aku rasa aku memang butuh sedikit pecutan atau sesuatu yang bisa memaksaku untuk membaca Al-Qur’an setiap hari..
Nah.. kalau dipikir, itu niat sudah kurang baik, atau tepatnya kurang lurus. Baca Al-Qur’an hanya kalau masuk grup ODOJ, dan itupun memaksa, karena suka tak suka, mau tak mau kan mesti habis 1 juz setiap hari.
Aku kembali ragu, dan takut, karena aku pernah baca sebuah kisah atau hadis (aku lupa darimana sumbernya), bahwa kegiatan ibadah apapun, kalau niatnya bukan karena lillahitaalah maka tak akan ada gunanya. Tempat kita akan tetap di neraka. Dalam hadis itu dikisahkan, Allah sedang menghisab amal setiap orang. Ada yang mati karena jihad, ditanya : “Untuk apa kau melakukan itu (jihad)?” “Untukmu ya Allah.” Allah yang maha tahu, langsung murka. “Bohong! Kau melakukan itu karena ingin dipandang berani oleh orang-orang.” Lalu ia dilempar ke neraka. Begitu juga dengan yang lain, ada yang sangat dermawan semasa hidupnya, tapi Allah bilang ia melakukan itu hanya karena ingin dipandang sebagai sosok dermawan, maka berakhir lah ia di neraka.
Jadi, kegiatan ibadah apapun itu, kalau niatnya sudah salah dan bukan karena Allah, tak ada bedanya dengan para kafir.
Aku langsung takut, dan benar-benar menekankan, ya Allah... aku memang ingin membaca Al-Qur’an karena-Mu, dan karena ingin tahu isi kandungan Al-Qur’an yang selama ini aku tak tahu. Aku masuk grup ODOJ ini bukan karena ada niat apa-apa, sumpah. Tahu sistem ODOJ itu bagaimana saja awalnya aku tak tahu. Aku masuk grup ini memang untuk supaya ada pemicu yang menekanku untuk konsisten membaca Al-Qur’an Mu, tapi tujuanku membaca Al-Qur’an bukan demi grup ini atau adminnya yang tiap saat merekap siapa saja yang sudah kholas.
Karena itu, sejak pertama kali masuk, aku berusaha meluruskan niat (walau memang tak ada niat macam-macam), bahwa saya membaca Al-Qur’an demi Tuhan dan agama saya, bukan siapa-siapa.
Pada hari pertama, mungkin karena masih ‘kagok’, aku sampai ‘keteteran’ hahaha ^^;
Pada hari pertama itu, malam sebelumnya, sebelum tidur, aku sudah menghabiskan kalau tak salah 5 lembar. Sisa 5 lembar lagi, dan aku percaya diri banget bisa menyelesaikannya besok tepat waktu. Malah aku masih santai esoknya, ya karena masih kagok kali ya, dan belum menyesuaikan diri, jadi aku masih terbawa habitku yang lama, yang santai, padahal masih ada 5 lembar lagi yang mesti dibaca. Pikiran waktu itu, nanti sore saja habis Ashar baru lanjut. Tinggal 5 lembar ini, gitu pikirku.. hahaha ^^; Istilahnya, ahhhh, kecillll... gampang lah ntar bacanya, sebentar juga kelar.
Hiahahaha..  Ngeremehin banget ye?? ^^;
Taunya, gimana? Kagak kelar tepat waktu! Hahaha.
Mungkin kalau bacanya normal dan cepat ya bisa kelar sebentar doang. Paling 5 lembar itu setengah jam lah. Sayangnya, aku lupa, kalau aku itu membaca Al-Qur’an begitu hati-hati, benar-benar berusaha ngikutin tanda bacanya dengan baik, dan menyerap maknanya (alias menghayati, dan juga baca terjemahannya). Ya jadinya ya lamaaa ^^; 1 jam waktu berjalan belum kelar tuh ngabisin 5 lembar, haha. Saking menghayati hurufnya satu demi satu dan maknanya per paragraf demi paragraf. Sampai nggak sadar hape yang disillent sudah kedap-kedip layarnya, karena beruntun chat WA masuk dari anak-anak ODOJ, dan ketua grupnya, mbak Ifha, yang pada nanyain ‘bagaimana, mbak Eka? Sudah selesai belum?’
Aku juga waktu itu sebenarnya salah ‘jam’ sih. Aku ingat tadinya batas baca Al-Qur’an itu jam 8 malam, ternyata jam 6 ^^. Karena mikirnya, jam 8, ya aku masih santai-santai aja walau sekilas melihat layar hape kedap-kedip. Ada rasa kesal juga sempat terlintas, ini orang kok pada nggak sabar banget? Emang dipikir baca Al-Qur’an itu bisa diburu-buru? Aku kan mau bacanya pelan-pelan dan dengan khusyuk, plus tak lupa menyerap terjemahannya. Tapi kalau digeber-geber ‘sudah selesai?’ kesannya kayak disuruh buru-buru, nah, gimana tuh? Jadi nggak bermakna dong baca Al-Qur’annya kalau mesti cepat-cepat baca..
Begitu lah kira-kira sempat suara hatiku mengomel, ehehe. Maklumin yaa.. anak baru waktu itu, jadi belum paham apa-apa.
            Setelah laporan begitu selesai baca, Cuma telat 10 menitan, mbak Ifha beri penjelasan ulang tentang peraturan ODOJ kalau batas kholas pribadi itu jam 6 sore WIB, sedangkan jam 8 malam itu batas kholas grup kalau-kalau ada yang meminta perpanjangan waktu, nah baru saya ngeh, dan manggut-manggut ^^;. Hadeeeehh... kemarin kemana aja ya pas mbak Ifha jelasin panjang lebar? Hahaha. *sungkem*
            Esoknya, tentu saja aku laporan sudah tamatin juz, jauhh sebelum waktunya. Tak mungkin lah aku mengulangi kesalahan yang sama, kan aku lebih pandai dari Keledai :p
Sejak hari pertama itu, sampai sekarang aku tak pernah yang namanya terlambat, apalagi diuber-uber sama anak-anak karena belum laporan. Haha. Sebab? Selain karena aku orangnya menjunjung komitmen, aku pun setiap hari selalu berusaha menjadi lebih baik, dan juga terus-terusan memperbaiki dan meluruskan niat supaya tak melenceng kemana-mana. Dari awal aku gabung ODOJ, niat aku Cuma satu, yaitu supaya aku membaca Al-Qur’an setiap hari, minimal ada menyentuhnya dalam sehari. Karena aku ingin hari-hariku diisi ilmu dari Al-Qur’an, menyerapnya, walau sedikit-sedikit tak apa, yang penting ada. Untuk itu lah aku gabung ODOJ, tak ada niat lain dan bukan karena niat lain. Masalah tentang mesti laporan tiap hari, dan ada batasan waktunya, menurutku itu terpisah lagi dari niat. Itu adalah suatu bentuk komitmen tersendiri pada grup ODOJ ini. Komitmenku pada Tuhan (untuk terus menimba ilmu dan membaca Al-Qur’an), dengan komitmenku pada grup ODOJ (untuk laporan tepat waktu, dan kholas setiap hari), adalah dua hal berbeda. Dan aku akan menjaga keduanya. Itu sebab, aku tak pernah melanggar salah satunya. Merasa susah sedikit pun tidak. Ternyata tak seperti yang aku dengar dari orang, yang mana banyak yang gugur karena kesulitan menghabiskan 1 juz dalam sehari, kesulitan membagi waktu, dan alasan-alasan lain. Aku tak ada menemukan kendala, alhamdulillah. Aku bisa segera beradaptasi, bahkan langsung menjadi kebiasaanku.
Menurutku, kalau dibilang susah membagi waktu, rasanya terlalu berlebihan. ^^; Aku terbengong-bengong sendiri melihat banyak yang mengeluhkan itu. Banyak yang tak bisa jaga komitmen, dan sering telat laporan, dengan alasan klise sulit membagi waktu. Kenapa ya? Apakah sesulit itu menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an? Padahal waktu ada 24 jam, dan membaca 1 juz itu Cuma butuh 1 jam (kalau mau marathon bacanya dalam sekali duduk), kalau mengikuti standar kecepatanku membaca yaa.. Mungkin kalau yang sudah lebih jago dan lebih cepat, malah bisa hanya kurang dari setengah jam kali.
Caraku membagi waktu kalau memang tak mau marathon membaca dalam sekali duduk, baca lah setiap sebelum tidur misalnya 2-3 lembar halaman. Lalu lanjut habis tahajud/shubuh, 4-5 lembar. Sisanya dihabiskan saat sebelum/sesudah Dzuhur. Nah, sebelum Ashar, sudah selesai tuh.
Itu caraku. Aku memang selalu membaca Al-Qur’an setiap habis sholat. Kalau kalian punya cara lain yang lebih cocok dengan kalian, ya silahkan. ^^;
Sekarang, hari ini.. hmm.. belum ada sebulan aku masuk grup ODOJ. Baru 23 hari. Yang berarti, baru sekitar 23 Juz yang aku baca. Rasanya gimana? Ya positif. Aku jadi membaca dan menyentuh Al-Qur’an setiap hari. Aku bahkan sampai hapal isinya (terjemahannya yaaa, bukan ayatnya ^^;) karena selalu baca berulang-ulang. Ada ilmu agama yang masuk ke kepalaku, alhamdulillah.. Jadi semakin banyak hal yang kutahu. Kesimpulannya? Tak ada efek negatif yang aku terima dari masuk grup ODOJ ini. Sama sekali tak ada. Justru ini menjadi suatu kegiatan positif buatku. Kalau waktu itu aku tak masuk grup ODOJ, mungkin aku tak akan rutin baca Al-Qur’an hingga bisa selesai 23 Juz seperti sekarang, dan bahkan terparahnya mungkin aku sampai detik ini belum juga menyentuh Al-Quran dan membacanya barang satu ayat pun. J

Sangat jauh berbeda diriku yang sebelum join, dengan yang sesudah join. Kalau dulu, sebelum join grup ini, aku merasa kayaknya suatu hal yang mustahil seorang EKA mampu baca 1 juz setiap hari secara rutin berturut-turut. Dulu, setiap bulan Ramadhan, aku selalu menargetkan untuk habiskan 1 juz per hari. Nyatanya? Tak pernah mencapai. Selalu Cuma semangat di awal, dan langsung melemah keesokan harinya. Paling bertahan sampai juz 5. Jadi, rasanya waktu itu suatu hal yang berat banget buat aku untuk menargetkan diri baca 1 juz per hari. 10 lembar itu kayaknya kebanyakan. Namanya penyakit manusia kan, malas dan lemah semangat ^^; Selalu ada banyak alasan. Yang capek lah, yang selalu bilang ‘nanti deh.. nanti deh..’ yang akhirnya tak kunjung dilakukan juga, haha.
Tapi, nyatanya? Begitu join grup ini.. 3 hari setelah join, anggapanku langsung berubah. Baca 1 juz per hari itu ternyata ringgaaaaannn sangat, bukan masalah besar. Apalagi kalau dengan niat karena Allah, karena ingin tahu firman-firmannya, ingin mendalami Al-Qur’an, dll.. beugh.. 10 lembar sehari itu tak ada apa-apanya. Muluuuussssss. Malah belakangan, aku jadi selalu tergiur ingin ambil lelang, apalagi kalau yang dilelang adalah juz yang belum aku baca, atau juz yang aku suka isi (terjemahan)-nya, walau sampai saat ini aku baru 3-4 kali kayaknya ikutan ambil lelang. Selalu sajaaa ada 2-3 orang dari grup yang punyanya kena lelang, dengan alasan klise, tak ada kabar laporan walau biasanya mereka akan muncul dengan alasan ‘lupa laporan’ atau ‘signal kacrut’. Nah, alasan-alasan itu yang bikin aku juga yang sempat antara tergiur tapi malas juga mau ngambil. Karena pernah aku ambil 1 juz (ini waktu pertama kali aku ikut ambil lelang), eh, passss banget aku selesai habiskan 1 juz itu, pass si empunya juz datang laporan bahwa dia sudah kholas, tapi baru laporan. Kesal kan.. hahaha. Bukannya nggak ikhlas, Cuma ya entah kenapa aku kesal. Dan aku memang sebenarnya tak suka ambil lelangan (walau kepengin), karena aku beranggapan, mereka-mereka itu mestinya bertanggung jawab! Kesal rasanya, kok nggak bisa jaga komitmen masing-masing? Dan lagi, aku merasa ambil lelangan itu tak bisa dibenarkan. Itu sudah benar-benar sistem membaca Al-Qur’an yang salah. Karena itu aku tak pernah ambil, selain karena pengin mereka bertanggung jawab sendiri dengan juz-nya masing-masing, aku juga jujur aja awalnya ada rasa egois. Kasarnya, aku nggak peduli sama juz orang lain, yang penting adalah bagianku sudah kubaca. Apalagi niatku masuk ODOJ adalah supaya rutin baca 1 juz per hari, bukannya giat ambil lelangan Cuma demi supaya grup kami kholas 30 juz tiap hari. Menurutku sistem begitu adalah sistem yang salah. Dan itu juga sudah banyak dikritik ulama, katanya itu bidhah. Makanya aku cuek-cuek aja, grup kami khatam atau tidak, i don’t care, yang penting saya baca 1 juz tiap hari. Hehe. Kalau gitu, kenapa akhirnya aku turut ambil lelangan?? Jujur, semata-mata hanya karena kasihan sama mbak Ifha yang pada hari itu sendirian ambil lelang. Tak ada yang berinisiatif ambil lelang, entah kenapa. Sementara mbak Arsih yang (aku salut) selalu bantu mbak Ifha ambil lelangan dalam jumlah banyak, pada masa tu kalau tak salah sedang ada acara, jadi tak bisa. Jadilah sepertinya mbak Ifha sendiri yang harus ambil lelang, karena itu member lain pada tak ada muncul. Dan waktu itu lelang yang diambil ada 3 juz kalau tak salah, dan mbak ifha sudah ambil mau 2 juz (sampai aku terbengong-bengong kagum, hebat ya dia bisa baca mau 2 juz dalam waktu satu jam-an), akhirnya aku langsung kasihan, dan bilang aku mau ambil yang sisa 1 juz. Sejak itu, walau masih tak setuju dengan sistem lelang, akhirnya aku ikut turut bantu ambil lelang, sambil meluruskan niat supaya ikhlas. Dengan baca lelangan, kan tilawahku semakin terlatih (lebih lancar baca tajwidnya), dan juga aku selalu ingat sabda Nabi bahwa 1 huruf itu ada 10 kebaikan, inshaAllah.
Hilang sudah rasa ragu, berganti dengan semangat untuk selalu menyelesaikan 1 juz tiap hari. Rasa takut salah di awal-awal perlahan sirna, karena aku menyakini, semua itu sebenarnya tergantung dari niat kita sendiri. Lagipun, menurut saya, jauh lebih baik ikut ODOJ, daripada tak menyentuh Al-Qur’an sama sekali. Jadi ya... mungkin banyak orang yang mengkritik ODOJ ini, dikata bidhah lah, riya lah, dan sebagainya.. Aku bisa paham mereka J Karena awalnya aku pun memiliki keraguan yang sama tentang ODOJ persis seperti mereka J Pesan aku pada orang yang masih berpikiran negatif pada komunitas ini, adalah.. “Jangan mudah suudzon, dan cobalah belajar berpikir positif.” Kalau memang merasa lebih baik akhlaknya, tentu tahu bahwa suudzon itu tak baik, dan kita diwajibkan untuk selalu berprasangka baik. Mengkritik boleh, tapi tidak dengan menghujat J Saya harap orang-orang sekarang bisa juga mulai belajar untuk berargumen dengan bahasa yang baik. Bukan ngejudge!
Masalah komunitas ini tampak riya dan bidhah, itu tergantung pandangan masing-masing. Lagipula ada kabar baik, sekarang sistem di ODOJ sudah tak ada lelang-lelangan lagi dan tak bertujuan tilawah berkelompok lagi :) Ahamdulillah~
Kalau sebelumnya kan, 1 grup anggota 30 orang, ini mesti pada kholas semua, supaya grup tilawahnya khatam 30 juz, dan kalau ada yang tak mencapai target bacaannya, itu bisa dilelang ke member lain. Nah.. kalau ini aku sudah bilang di awal, aku tak setuju dengan sistem ini. Ini sudah jelas sangat bidhahnya, karena cara membaca Al-Qur’annya itu benar-benar tak bisa dibenarkan. Masa ada sistem lelang-lelangan? Lalu tilawahnya via on line pula (yang mana kita tak tahu apa benar si A, B, C, D, E dll itu beneran baca juz nya sampai selesai, atau tidak? Tak ada saksi). Tilawah yang aku tahu itu kita mendengarkan orang yang membaca juz (dalam satu ruangan), bukannya Cuma sekadar lapor-laporan di whatsapp memberitahu kalau sudah baca/kholas.
Tapi, alhamdulillahnya.. sistem itu sudah dihapus. Tak ada lagi rasa kewajiban untuk khatam 30 juz per kelompok. Jadi juga tak ada lagi lelang-lelangan. Sekarang fokus ke diri masing-masing aja, fokus ke juz yang dibaca. Tapi, tetap, bacanya 1 hari 1 juz. Dan ini lah yang memang aku mau :) Masalah bohong, memang masih akan ada kemungkinan orang yang ‘berbohong’ yaaa. Misalnya dia hari ini mesti baca juz 5, tapi dia tak baca, atau belum selesai baca, tapi laporan kholas. Nahh.. kalau yang begini, ya itu urusan dia sama Tuhan :) Tak usah pusingkan masalah orang lain sih kalau kata aku, pikirkan diri sendiri aja. Jadi aku tak peduli, mereka kholas atau tidak, bohong atau tidak, i dont care..  Yang penting aku baca juz bagianku, dan aku jujur, dan niatnya karena Allah SWT. Sudah, cukup itu. :)
Semoga komunitas ODOJ ini semakin memberi manfaat yang baik untuk banyak orang ke depannya, sistemnya juga semakin baik, dan juga makin diperbanyak event yang berhubungan dengan islami dan bisa mengajak orang dalam kebaikan :) Dan tentu, semoga komunitas ini diberkahi Allah SWT, Amiiinn.




{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Rabu, 24 September 2014

Berdamai dengan Rasa Iri

Diposting oleh Eka Suzanna di 08.51 0 komentar


Ada yang pernah iri atau sirik dengan kesuksesan orang lain? Iri dengan kelebihan yang mereka punya?

Haahahaha, ini pertanyaan bodoh banget ya hehehe.. *nyengir*

Ya, i knoe for sure, pasti ada lah. Banyak. Termasuk saya sendiri.. :D

Hiks. :(

Hmm... iri dalam arti... ya iri. Emang ada yang tak paham makna iri ya? ^^; Hahaha, saya yakin semua orang paham bagaimana sifat iri itu.

Terkadang aku menghibur diri sendiri, sih, kalau sifat iri itu hendak menjangkit, dengan mengatakan bahwa 'iri itu tak apa, kok, Eka, asal positife.' Yang mana iri positife itu berarti kita iri dengan keberhasilan orang lain, salut dengan usaha dan kegigihannya, dan kemudian kita bertekad akan memperbaiki diri dan lebih berusaha lagi supaya bisa menyamai pencapaian mereka, dan bahkan kalau bisa jauh melebihi ^^;. Jadi, iri positif itu memacu kita untuk terus berusaha dan menjadi lebih baik lagi.

Dalam arti lain, aku tak merasa itu dosa. Karena emang aku tak dengki sama orang, hanya saja aku sering tercetus 'wah..dia udah jadi begini, aku aja belum apa-apa..' atau 'kenapa ya dia bisa sampai sukses begitu, kayaknya dia selalu bahagia, semua mimpinya selalu terwujud..'

Namun kemudian aku segera sadar, tentunya orang-orang itu berusaha sekuat tenaga untuk menggapai hal itu. Kalau aku masih gini-gini aja, ya karena aku emang tak berbuat apa-apa. Aku tak ada usaha sama sekali, hahaha :D Jadi, ya wajar lah hasilnya beda, antara yang usaha dan kerja keras, sama yang cuma diam aja nggak tahu tuh ngapain. Haha.

Kadang ada juga iri dalam arti turut berbahagia dan juga mengagumi. Aku tak tahu sih apa ini termasuk iri atau tidak. Disaat kita mengagumi seseorang, tentu kan sering tercetus di hati kita, "kok bisa ya dia sampai bisa begitu? Duh.. mau banget jadi kayak dia."

Hahahaha ^^;

Nahhh... yang ini aku sering banget nih. Apalagi sejak aku memutuskan berhijab. 

Eh,... nggak, ding. Dari sebelum berhijab.

Seminggu-an sebelum benar-benar memutuskan berhijab, aku ngefans gila sama Oki Setiana Dewi, dan Indri Giana. Kebetulan di tahun ini kan mereka pada nikah tuh, jadi sering muncul di infotainment.. Duhhh,envy berattttt, hahahaha ^^;

Aku selalu kagum dengan Oki Setiana Dewi, bahkan termasuk cerita di balik hijabnya. Dia itu kayaknya gak pernah marah ya orangnya? Penasaran..hahahah. Habisnya, mukanya dia itu selalu tersenyum, subhanallah... Tak pernah saya nampak muka dia yang tak ada ukiran senyumnya selama saya nonton di TV. Catat ya itu, selama yang saya lihat di TV :p. Kan kalau aslinya saya belum pernah ketemu ^^;, heheh. 

Dan kalau saya searching di Internet tentang dia, muncul semua fotonya.....dengan YAK, tak ketinggalan senyuman lebarnya. Ughhh..gemesss. Gemesss, karena senang liat senyumnya. Subhanallah banget.. pengin kayak kak Oki, bisa selalu tersenyum seperti itu, seakan semua mukanya itu turut tertawa bahagia juga. Seolah-olah hidungnya, pipinya, matanya, semuanya seakan ikut tersenyum.

Tak hanya itu, aku pun mengagumi semua prestasi yang diraihnya. Sangat kagum, sekaligus iri tentunya.. hehehe ^^; 

Aku dan Kak Oki itu punya hobi dan impian yang sama. Kak Oki hobi acting dan saat kecil punya impian jadi artis. Dia juga bikin buku. Aku pun pengin punya buku biografi seperti dia yang bisa menginspirasi banyak orang ^^;. Bukunya yang Melukis Pelangi adalah buku yang paling ingin kubaca... tapi belum kesampaian. Sebenarnya kemarin sudah pesan di salah satu toko buku online bersamaan dengan buku kak Oki yang judulnya Hijab i'm in Love. Yang hijab itu ada, dan sudah aku baca juga sampai selesai, sementara yang Melukis Pelangi stocknya kosong :( Ya jadinya tak jadi beli, dan belum bisa baca deh... 

Tapi ada kok versi cetakan ulangnya, dan kak Oki ada jual. Kak Oki punya toko online pribadi, btw, :D Kita bisa beli bukunya disitu. Dapat bonus tanda tangan pula :D

Aku belum pesan, karena mau sekalian aja nanti beli sama gamisnya. Yaaa.. selain jual buku-bukunya, kak Oki juga jualan gamis-gamis dan khimar cantik >.< Selalu mupeng tiap buka instagramnya :(

Sayang, mahal.. hehe. Sebenarnya mungkin tak mahal.. tapi bagi orang kere seperti saya, harga pakaian 200ribu-400ribuan itu termasuk mahaalllll *pingsan*

Dari dulu aku paling tak suka beli baju yang harganya di atas 70ribu. Kalau harga baju sudah 90rubu-100ribu ke atas, menurutku itu baju gila. Hahaha. Karena pikiranku, baju aja loh, kain, moso segitu banget harganya? 

Hahaha, karena aku orangnya nggak fashionable, jadi memang gak terlalu ngurusin baju. Bagi aku baju mura oke, yang penting bagus dan bisa dipakai. Gak perlu yang mahal-mahal. Aku selalu beli baju paling tinggi harga 75ribu-80ribu. Itu pun saat beli, sepertinya aku lagi agak nggak waras ^^;.

Back to topic, sekarang kok mati-matian naksir gamis mahal?? Hahahah...ya karena aku berhijab, dan aku suka modelnya. Takut ah kalau beli gamis di pasar. Ntar harganya mahal, kualitas jelek. Mending beli langsung di yang jelas emang kualitasnya bagus dan terpercaya, harga mahal tak masalah. 

Bukannya mau suudzon ya dengan langsung menuduh gamis yang dijual pasar itu jelek-jelek kualitasnya... Cuma aku kan belum pernah pakai gamis. Berhijab juga masih baru banget. Jadi, kasarnya, aku itu masih bodoh banget dalam urusan membeli kerudung dan gamis, belum pernah belanja soalnya selama ini hahaha. ^^;

Kerudung aja sampai sekarang aku tak tahu tuh bahannya apa aja namanya, nggak ngerti. Taunya cuma, kalau modelnya bagus, dan enak dipakai, ya saya suka. 

So, karena masih bodoh banget sama jenis-jenis bahan/kain dan menilai kualitas, aku sekarang masih suka belanja online saja, yang tentunya di toko online terpercaya yaaa salah satunya seperti punya kak Oki Setiana ini). Nanti, kalau sudah mahir nih membedakan mana kain bagus, mana yang tidak, mana yang kualitasnya oke, mana yang tidak... nahh... baru deh kita berkelana menerjang pasar ^^; hahaha.

Satu lagi sih sebenarnya alasan kenapa aku tak suka beli di pasar.... hahaha. Selain karena bodoh menilai kualitas, aku juga tak bisa menawar. Komplit gak tuh? -_- Sudahnya tak tau kualitas barang, tak bisa nawar, jadi sering kena dibodohi penjual XD. Harga yang harusnya kalau dibeli oleh pembeli yang jago nawar bakal dapat murah banget, aku dapatnya harga mahal :s

Kasarnya sih saya tipe pembeli yang bisa ditipu dengan bualan manis penjual. Hahaha ^^;

Makanya, malas kan jadinya? Mending langsung sekalian beli yang mahal aja di toko terpercaya yang kualitasnya pun jelas memang setara lah dengan harganya. Walau ya itu tadi... harus sabar ngumpulin duitnya.... karena (gamis) super mahal harganya.. hahaha.

Uhuks.... Mau berhijab syar'i aja susah ye.. :(

Hahaha.

Nah, omong-omong soal hijab syar'i.... 



Aku ngenes pas kemarin baca Al-Qur'an, dipertemukan dengan ayat ini..


 

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 (Q.S. An Nisa  (4): 32)


....Langsung tersadar, betapa seringnya aku iri dengan orang lain. Iri, kenapa mereka bisa jadi artis dengan mudahnya, sudah bisa bikin buku sementara aku masih gini gini aja, bisa lancar jalankan bisnisnya, dll.. sementara hidupku stuck. Bahkan kalaupun hidupku ini nampak berjalan, sesungguhnya ia berjalan menuju kegelapan :s

Aku bahkan sering iri dengan tanpa kusadari untuk hal-hal yang sebenarnya sangat sepele. Yang kesannya aku itu secara tak langsung kayak menganggap Tuhan tak adil. Walau setelahnya aku langsung istighfar banyak-banyak setiap habis terbersit bisikan itu, aku tetap merasa sedih dan berdosa pada Tuhan. Kok bisa menyangsikan Tuhan, sementara tak introspeksi diri? Ngaca dulu gitu, sudah buat apa emangnya? Sudah mengutamakan Tuhan dalam tiap waktu, belum? Jangan-jangan sentuh Al-qur'an saja mungkin tak pernah. Malah sholat pun mungkin sudah tak pernah lagi. Astagfirullah...

Dan baca ayat di atas itu langsung seakan finalnya, PLAK! Menampar abisss ini muka.

Betapa sebenarnya kasih sayang Allah itu begitu besar pada semua hambanya.Tak bosan mengingatkan kita saat kita mulai meleng darinya, mulai berpaling darinya, mulai melupakannya. Sementara Ia tak pernah lupa sedikit pun pada kita. Tanpa kita tahu, Ia selalu memperhatikan kita, mendengar suara hati kita, dia ada di dekat hati kita. Sangat dekat. Tapi kita terkadang memandangNya sebelah mata pun tidak...

Surat An Nisa itu benar-benar menyadarkanku, bahwa betapa banyaknya rahmat Allah yang begitu besar aku terima sampai detik ini. Hal terbesar, adalah kenyataan bahwa aku masih bernapas hingga saat ini. Tanda bahwa Allah masih memberikanku kesempatan untuk terus memperbaiki diri agar menjadi hambanya yang lebih baik, yang terus mengingatnya, dan terus meminta padanya (tentunya disertai dengan usaha dan ketakwaan).

Ini yang selalu kulupakan. Allah SWT sangat senang dimintai sesuatu oleh hambanya (yang tentunya bertakwa padanya). Allah SWT akan sangat senang mengabulkan permintaan hambanya yang mau berusaha dan berjalan di jalan-Nya.

Terima kasih ya Allah.. sedikit sedikit Engkau semakin membuka mataku. :)

Terima kasih kunjungannya~ :)

 

bOLLywood-giRL.coM © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor