Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 November 2014

Silent

Diposting oleh Eka Suzanna di 07.11 0 komentar
                “Lama-lama pusing gue sama Widya. Kayaknya apa yang gue lakuin juga pasti  selalu salah di mata dia, gak ada yang bener.”

                Adi mulai terlihat mengeluhkan sikap pacarnya lagi, dan sepertinya ini menjadi lebih sering dari biasanya belakangan ini. Apakah memang semua lelaki dan perempuan yang berpacaran akan mengalami hal seperti ini, selalu ribut dan bertengkar mengenal hal-hal yang sebenarnya bukan masalah besar? Entah lah. Aku tak tau, karena aku tak pernah merasakannya. Bagaimana bisa? aku saja tak pernah pacaran. Aku tak pernah paham dengan konsep pacaran. Selain itu... karena orang yang kucintai sudah memiliki kekasih, jadi yang bisa kulakukan hanyalah duduk diam di hadapannya, menemaninya dan mendengarkan segala keluh kesahnya. Ya, yang aku lakukan sekarang ini.
                “Dia selalu aja maunya dingertiin sama gue, tapi dia sendiri gak pernah mau ngertiin gue. Kayaknya nggak pernah nganggap gue sebagai pacar sama sekali. Gue dianggap supirnya doang kali ya? Kayak diinjek-injek, tau nggak.” Adi melanjutkan keluhannya, dan aku tetap dalam diam sambil memusatkan mata pada mimik wajahnya yang semakin nampak sangat kesal.
                “Emangnya sekarang elo berdua ribut karena apa?” tanyaku akhirnya, sambil menyeruput habis sisa Cappucino dalam gelas.
                “Cuma gara-gara gue nggak bisa jalan sama dia kemarin. Padahal kan nggak sering-sering juga gue ingkar janji. Kebetulan aja kemarin gue sudah terlanjur janji sama Hery cs buat main futsal bareng, ya kan gak mungkin gue batalin gitu aja.”
                “Trus?”
                “Ya udah, trus apalagi, dia ngamuk-ngamuk, bilang gue lebih mentingin futsal lah daripada dia, ngatain gue cowok cemen gak bisa pegang janji, malah nuduh gue macam-macam segala, bilang gue ada main sama cewek di tempat futsal. Gimana gue nggak jengkel? Lama-lama gue selingkuh beneran aja kalo gini! Daripada dituduh gak jelas, padahal gue nggak ngelakuin, kan mending gue selingkuh beneran!”
                “Sampe segitunya?” Aku mengernyitkan kening. “Widya emangnya seposesif itu sama lo?”
                “Tauk tuh, belakangan makin menjadi-jadi aja tingkahnya. Kayak mau ngekang gue banget.”
                Aku tersenyum kecut agak samar, hingga mungkin Adi tak menyadarinya sama sekali. Dari awal saat Adi memperkenalkan Widya padaku sebagai kekasih barunya, aku sudah bisa menebak tipe gadis seperti apa dia. Dan aku sudah merasa yakin seratus persen, Widya tak akan cocok berhubungan dengan Adi. Karakter mereka sangat bertolak belakang. Adi adalah tipe lelaki yang butuh diperhatikan, ditemani, diperlakukan dengan lembut, tak bisa dengan cara keras. Sebaliknya, Widya adalah tipe perempuan yang selalu bersikap frontal, keras kepala, manja, dan mudah emosi. Kalau dipaksakan untuk cocok pun juga tak akan bisa. Terkadang aku sendiri tak rela setiap melihat bagaimana perlakuan Widya pada lelaki yang kucintai ini. Kenapa dunia memang selalu tak adil? Tak bisakah dunia berkonspirasi menjodohkanku dan Adi? Aku bisa selalu menjaga dan mencintainya dengan sangat baik, jauh melebihi gadis manapun yang ada di sekeliling kami.
                “Ya elo juga, kok bisa pacaran sama yang modelnya begitu? Makanya, pilih-pilih dulu, jangan asal ngegaet.”
                “Sial lo,” Adi mendengus geli mendengar perkataanku yang padahal sangat serius. “Ya mana gue tahu kan kalau dia begitu banget. Gue awalnya kepincut sama kecantikannya. Lagipula waktu pertama kali, keliatannya dia tuh dewasa. Mana gue sangka kalau ternyata sama aja kayak cewek lain, cemburuan, manja, posesif..hh... malesin, lah. Heran gue, kayaknya semua cewek tuh sama aja ya.”
                Aku hanya tersenyum simpul dengan menarik ujung bibirku ke atas, kemudian sambil lalu memainkan ponsel. “Ya putusin aja, trus pacaran sama gue.”
                Huaaaaaa! Aku terkejut sendiri mendengar sederet kalimat yang baru saja meluncur lancar dari mulutku. Berani juga aku mengatakan hal itu! Walau perkataan itu sengaja kukatakan dengan lagak sambil lalu, tapi tetap saja jantungku nyaris terasa akan jatuh melorot. Aku tak berani melihat wajah Adi, tapi aku juga penasaran, jadi aku sedikit mengangkat kepala hendak menatapnya, dan yang kudapatkan seketika adalah jitakan keras dari kepalan tinjunya.
                “Bangke lo!!” Tawa Adi seketika meledak setelahnya. “Gue masih normal kali! Sarap lo, ah, Dim!” Ia masih tertawa ngakak, dan menatapku geli. “Dunia kiamat dan cewek di dunia ini sudah punah sekalipun juga gue bakal tetap ogah! Amit-amit!”
                Aku hanya mendengus, mengelus-elus kepalaku yang terasa ngilu, dan ikut tertawa bersamanya. Yah, aku memang sudah tahu jawaban seperti itu yang akan ia berikan. Ia menganggap perkataanku tadi hanyalah sebuah lelucon antar sahabat, dan sampai kapan pun akan seperti itu. Biarlah Cuma aku dan Tuhan yang tahu bahwa perasaan sayang dan cintaku padanya adalah sebuah kebenaran yang pasti sulit diterima dalam dunia yang tak adil ini.
                “Woii, Adi!! Dimas!!” seruan melengking seorang perempuan mengejutkan kami, membuat aku dan Adi serentak menoleh bersamaan ke arah samping kantin sekolah. Novi, salah satu teman sekelas kami terlihat memandang jutek dari kejauhan. Wajah gadis itu semakin memberengut saat menyadari kami tak juga kunjung bangkit dari bangku kantin.  “Sudah bel masuk tuh, woy! Gak dengar apa?? Budek kali ya!??”
                “Wah, iya!” Adi yang sadar duluan, langsung berdiri dan melompati bangku begitu saja. “Ah, gara-gara lo, Dim! Mana gue belum selesai ngerjain PR! Mampus gue. Masih sempet nyontek nggak, nih??” Aku tak terlalu menggubris apa yang Adi serukan selanjutnya, karena aku sendiri sudah berlari cepat menuju kelas. Aku juga belum menyelesakan PR Fisika. Gawat!


=========================================================================
 




Note: Aku baru tahu tentang gerakan membuat cerpen ini jam 9 malam tadi ^^;, Begitu selesai baca aturannya, aku langsung bertanya pada beberapa temanku, dan dua orang memberikan jawaban. Yang satu meminta tema cerita tentang Forbidden Love yang mengisahkan cinta sesama jenis, yang satu meminta cerita tentang dua orang yang saling menyukai tapi tak menyadari. Aku memilih yang Forbidden Love,...karena... tak ada alasan, sih ^^; Karena sesungguhnya aku sampai detik ini tak tau harus menulis cerpen apa karena waktunya sangat mepet. Dan aku tak pernah nulis cerita tentang Forbidden Love, karena itu bukan gayaku banget. Kalau disuruh milih, sebenarnya aku memilih tema yang satunya, karena itu lah yang aku banget. Tapi, tak tau kenapa otakku terasa buntu, aku tak bisa memikirkan alur ceritanya sama sekali. Selain karena waktu sangat mepet, aku juga sudah mengantuk.. hehe. Yang terpikirkan di otakku hanya lah... ya cerita ini ^^;

Selasa, 24 September 2013

Semuanya Terlahir 'istimewa'

Diposting oleh Eka Suzanna di 10.05 0 komentar

“Permisi, dek… saya mau nanya, rumah sakit Bhayangkari dimana ya?”

Aku memperhatikan lelaki muda yang sedang mengajakku berbicara. Kalau melihat dari perawakannya yang mengenakan kemeja cokelat kotak-kota tanpa dikancing, memperlihatkan kaus dalamnya yang berwarna putih, dan rambutnya yang diberi gel, sepertinya ia seorang mahasiswa. Tapi, yeah, aku bisa saja salah.

“Dek?” tegurnya lagi, mungkin karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Aku menggigit bibir sejenak, dan batinku mulai berperang. Baru saja aku akan memutuskan untuk menanggapinya atau tidak, teguran seorang pria terdengar dari warung makan yang tak begitu jauh dari kami.

“Dek, nggak sopan banget, sih! Kalau orang nanya itu dijawab. Caria pa, Mas?” serunya.

Lelaki di hadapanku segera tersenyum sumringah setelah tadi sempat kesal padaku yang hanya diam membatu di hadapannya.  Ia bergegas menghampiri warung makan itu, dan bercakap sebentar, sebelum akhirnya pergi, mungkin karena sudah mendapatkan apa yang ia butuh.

“Dek,” tegur pria di warung makan itu, lagi. Aku memberikannya lirikan, tanpa benar-benar berani menatapnya. “Lain kali kalau ada orang minta bantuan, dijawab, dong. Kalau nggak tahu, kan, tinggal bilang nggak tahu. Sombong banget jadi cewek.”

Aku menarik napas sejenak, dan menghembuskannya hati-hati. Terselip perasaan tidak enak hati, tapi…. Bagaimana pun mereka tidak mengerti betapa sulitnya berada di posisiku.

“..m..mm..ma..maaf…, M..m..mas…” ujarku akhirnya, berusaha melafalkannya dengan baik, tapi tetap saja tak akan terdengar normal. “S..sa..ya.. b..bu..k..an..n..ny..a bber..m..mak..s..ss..ud.. s..om..bb..onn..ng..”

Pria itu terdiam ketika aku mulai bersuara. Dan aku tidak mungkin salah dengar, dari dalam warung makan itu, terdengar banyak orang yang sedang menahan tawa, mengatupkan bibir rapat-rapat, berusaha tidak menertawakanku terang-terangan. Tapi, tetap saja aku menyadarinya. Dan itu menyakitkan.

==

“Nan..” tegur ibu yang mendapatiku terduduk di kursi depan rumah, baru pulang sekolah dan belu melepaskan sepatu dan tas sekolahku. “Kenapa melamun?”

Aku sedikit mendongakkan kepala, menatap mata beliau sebentar, namun kemudian menggeleng pelan.

Sepertinya ibu menangkap kesedihanku di mataku, karena aku juga bisa menangkap sorot kecemasan di matanya. Namun, beliau selalu menjaga hatiku dengan sangat baik, sehingga tidak pernah berkata apa-apa, dan juga tak ingin terlalu banyak bertanya. Ia tahu, kalau aku memang ingin cerita, aku akan melakukannya nanti dengan sendirinya.

“Ya, sudah.. ayo, ganti baju sekolahnya. Nanti kotor. Ibu sudah siapkan itu, mie goreng dan telur dadar di atas meja. Di makan ya. Ibu mau siap-siap dulu.” 

Mataku masih mengekori ibuku yang kini sedang sibuk menggelar beberapa meja kecil di teras rumah. Sebentar lagi, pasti anak-anak yang mengaji bersama ibu akan datang. Aku segera melepaskan sepatu, kemudian masuk ke dalam rumah. Aku sengaja melambatkan langkahku. Pikiranku masih penuh dengan pertanyaan akan hidup ini. Pertanyaan yang selalu sama seperti kemarin, yang aku rasa tak akan pernah ada jawabannya. Kenapa aku harus berbeda dari manusia normal? Dulu, nenek dan Ibu selalu mengatakan bahwa berbeda, berarti istimewa. Tetapi, dimana letak keistimewaanku?

==
Aku mengelap bibir dengan tissue setelah menghabiskan segelas air putih dalam beberapa kali teguk. Perlahan aku bangkit, dan melangkah keluar rumah. Aku bisa mendengar suara ibu yang begitu lembut sedang menerangkan sesuatu pada anak didiknya. Bahasa ibu yang begitu santun, lembut, keibuan.. sangat terdengar menyenangkan. Aku bersandar di pinggir pintu dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan keributan, memperhatikan beberapa anak mungil itu yang terlihat cukup antusias memperhatikan ibu.

“… jangan sesekali menghina makhluk hidup yang lain. Kita semua sama. Tak berbeda. Kita sama-sama diciptakan oleh Tuhan.  Semua orang terlahir dengan tidak sempurna, dengan kelebihan dan kekurangannya. Itu rezeki kita masing-masing. Yang pasti, Tuhan telah menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya, dan tak ada ciptaannya yang tidak berguna. Apa yang dihasilkan dari tangan Tuhan, selalu istimewa..”

Tubuhku sedikit tergerak saat mendengar kata-kata ibu, dan tanpa sadar menimbulkan derit pintu.

“Loh, Nani?” Ibu sempat agak terkejut saat menolehkan kepalanya ke arahku, namun kemudian tersenyum lembut. Senyuman khas-nya yang sangat aku suka. “Sini,” ibu melambaikan tangan agar aku duduk mendekat di sebelahnya. “Mau nemanin ibu ngajar adek-adek ini?”

Aku tercenung sebentar menatap anak-anak itu. Seorang anak laki-laki , yang mungkin berusia 6-7 tahun, segera mendekat ke arahku sambil tersenyum lebar memperlihatkan satu giginya yang ompong. Aku lantas tertawa, kemudian mengangguk padanya untuk memulai mengaji.
Ibu, terima kasih karena sekali lagi mengingatkanku. Semua manusia tak ada yang sempurna. Tetapi, satu hal yang pasti, semua yang terlahir di dunia ini bukanlah sesuatu yang tak akan bisa berguna.

Terima kasih kunjungannya~ :)

 

bOLLywood-giRL.coM © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor