Rabu, 04 Desember 2013

Teruntuk SHAWOL ABABIL!

Diposting oleh Eka Suzanna di 13.27 0 komentar
TOLONG DEH, kalau mau fangirling sih sah-sah aja, tapi nggak usah lebay :s

Maaf ya kalau ada yang tersinggung, no offense loh. Aku ngomong gini cuma karena aku sebal sama orang-orang yang ‘ngakunya’ ngefans sama seorang idola, tapi segitu possesifnya!

Ngefans lalu jealous? Itu wajar.
Tapi ngefans, kemudian possesif? Itu namanya kurang ajar.

Sebagai fans, kita itu mendukung idola kita, mensupport, bukannya nge bash orang sana-sini, hina sana-sini sesama idola dan sesama fanbase. Gak malu apa sama kelakuan?

Okay… sebenarnya udah lama aku kesal banget sama fans-fans yang beginian. Sampai-sampai dulu aku pun agak berdebat ‘dingin’ sama sohibku, karena perbedaan pemikiran ini. Aku yang kukuh seperti ini, dan dia yang kukuh membela orang-orang yang possesif sama idolanya itu. Dalam kasus yang kami bahas dulu itu adalah Jonghyun (saat itu Jonghyun terlibat scandal pacaran sama artis, lalu banyak yang koment negatif sana-sini). Nggak banget lah, pokoknya. Kalau bisa maki-maki sih aku udah pengen maki-maki di telinga mereka yang super lebay itu. Helllooow, masa cuma gegara idola lo pacaran lo langsung jadi antis? Yaelllahh… cetek banget man, mental lo. Mana yang katanya blingers sejati? Yang selalu mendukung dan mensupport Jonghyun? Mana?? Cih!

Dan temanku itu mati-matian mendebatku. Walau gitu aku tetap kukuh dong sama diri aku, terserah orang mau kata apa.

Menurut temanku itu, harusnya seorang idola itu ‘memikirkan’ perasaan fansnya. Fansnya sudah mencintai mereka, jadi ya balasan mereka juga harus lah mencintai fans mereka dengan menjaga perasaannya.

Uhuk.

Kesimpulannya, ‘mereka’ ini maunya si idola jomblo abadi selamanya -_-

Yang benar sajaaaa. Segitu doang rasa cinta mereka ke idola? Cih. Ternyata cinta yang selama ini mereka beri itu, menuntut balasan toh dari idola… kirain setulus hati *evil smirk*.

Auk lah. Aku cuma bisa kasih ini nihh… *jempol, dibalik*.

Dan kemarin, terulang lagi.. aku baca comment salah satu ‘shawol’ lebay : “harusnya Taemin itu menjaga perasaan fansnya :’(("

“Mulai detik ini gue berhenti jadi fans Taemin! Taemin sama sekali nggak menghargai perasaan gue! Ngecewain!! Gue mau pindah ke fandom lain aja!”

#JEDANG

Eike cuma bisa tepok jidat bacanya. Hahahaha.

 Gak aku balas sih, karena nggak mau memperkeruh suasana, apalagi para shawol lain mulai panik (seakan-akan negara Indonesia balik dijajah), memohon-mohon dan membujuk si shawol lebay itu.. ups.. “ex shawol” ding :p, untuk balik menjadi fans.

Hallah.. aku mah cuma bilang dalam hati, ‘ya lo mau keluar, keluar aja kaliii. Gak perlu pakai acara lebay dulu, kayak istri yang ditinggal nikah suaminya sama istri muda. SHINee, terutama Taemin, gak butuh fans kayak lo!’

Kasar kata-kataku?

Loh, nggak kan?? :))

Liat aja tuh, kurang lebay apa dong dia?? Emangnya pantes orang kayak gitu jadi shawol? Yang dikit-dikit langsung ngancam berhenti jadi fans.

Huh.

Itu sebabnya aku gak pernah mau tergabung dalam fangirling, termasuk fanbase. Walau aku menyukai SHINee, tak pernah sekalipun aku mengaku menjadi Shawol. Walau biasku Taemin, aku juga gak pernah menyatakan diri sebagai Taemintz.

Yah… aku adalah aku. Seorang Eka yang menyukai SHINee dan mengidolakan Taemin.

Ya, aku jelas cemburu lah kalau Taemin ada skinship sama beberapa cewek. Sebut aja yang pernah terlibat itu, BoA, Sulli, dan sekarang Naeun. Tapi apa aku benci sama cewek itu? Kagak. Menghina seujung kukunya pun gak pernah. Taemin itu harus profesional untuk dance battle dengan BoA. Banyak temanku yang sering sengaja manas-manasin aku, tapi aku sama sekali nggak panas tuh hohoho ^ ^

Mau BoA cium ketek Taemin juga aku biasa aja.

Bohong tapi kalau nggak jealous. Mungkin tepatnya lebih ke iri aja sih ya. Mereka bisa sentuh Taemin, aku nggak bisa. Tapi yaudah, sebatas itu aja.

Sekarang apa yang membuatku kembali mendidih hingga akhirnya membuat postingan ini? Yak! Kasus TaeminNaeun. Selama ini aku udah sabar-sabarin banget dan tutup mata-telinga kalau dengar atau baca ada banyak shawol yang ngata-ngatain Naeun. Dengan kata-kata yang nggak ada santunnya pula. Bitch banget memang, mereka, bukan Naeun.

Sekarang aku benar-benar merasa nggak bisa diam lagi. Gara-gara ada staff yang ‘katanya’ nyebut Taemin brengsek atau apalah sejenisnya.. Shawol, terutama Taemint, pada murka. Keluar deh tuh sumpah serapah mereka, ngata-ngatain Naeun segala macam. Naeun yang mulai pakai hati lah, Naeun yang punya air mata komodo dan buaya lah, dll.



image


Intinya, mereka menganggap Naeun itu sengaja membuat image Taemin buruk. Seperti itu lah kesimpulan yang aku lihat.

Aku sebagai pengikut setia WGM taemin Naeun, jelas dong langsung menghardik mereka. Selain karena aku nggak suka sama kelakuan mereka yang ‘ngakunya’ Shawol, kayak gitu (nggak usah deh ngaku-ngaku jadi Shawol lu! Malu-maluin aja -_-”), aku juga ngerasa nggak ada yang salah dari Naeun. Kenapa dia harus dimaki-maki sampai seperti itu?

Banyak yang bilang Naeun mulai main hati.

Gini ya, aku rasa semua artis WGM pasti main hati lah! Gila aja kali kalau nggak, berarti kasian dia nggak punya hati. Nggak usah deh jauh-jauh, coba aja kamu, tiba-tiba dipasangkan dengan cowok asing, main jadi pasangan di WGM berbulan-bulan. Emang awalnya gak cinta, nggak ada perasaan juga. Tapi BOHONG banget kalau lama-kelamaan nggak main pakai hati. Bohong! Pasti main hati lah, walau mungkin sebenarnya nggak cinta yang bagaimana-bagaimana. Walau tahu itu cuma syuting, tetap saja kan skinship itu benar-benar dilakukan. Anggaplah kayak sinetron. Sinetron cuma drama, semua orang tahu itu fiktif, ada naskah, tapi buktinya banyak pemainnya yang cinlok. Donita-Randy Pangalila (dulu), Shireen-Adly Fairuz (dulu), Shireen-Teuku Wisnu, Irwansyah-Acha (dulu), Irwansyah-Sazkia, Yuki Kato-Steven, dll. See??

Itu sinetron.

Nah, apalagi WGM yang jelas-jelas separuh script separuh nyata -,,-

Jadi ya yang pada ngatain Naeun main hati, aku cuma bisa bilang, aku justru senang dia main hati, karena apa? Berarti dia tulus selama menjadi melakoni jadi istri Taemin. Coba, kalau dia cuek, nggak main hati, aku malah bakal sebel dan berdoa tiap malam biar WGM cepat kelar! Karena buat apa diterusin kalau dia cuek aja, nggak sayang sama Taemin? Huh.

Banyak yang bilang juga kalau Naeun itu air mata komodo.

Nggak tahu sih ya maksudnya apa, tapi yang aku tangkap sih mereka nganggap Naeun itu nangisnya dibuat-buat aja buat ngejelekkin image Taemin.

Yah, itu semua cuma Naeun dan Tuhan yang tahu. Tapi kalau aku lihat, itu bukan air mata dibuat-buat. Air mata beneran. Dan aku kalau di posisi dia juga bakal kayak gitu. Justru aneh kalau dia nggak sedih, nggak nangis. Berarti itu udah jelas kalau WGM hanyalah sandiwara. Tapi dengan adanya sifat natural Naeun yang menangis karena ulah Taemin, justru aku bisa merasa ini real. Heran banget kalau masih aja ada orang yang nggak bisa ngebedain sandiwara sama beneran… ckckckck

Dan aku, walaupun mengidolakan Taemin, aku mengakui kalau di sini (selama WGM) Taemin lah yang sering ngecewain, sering nyebelin, bikin jengkel. Tolong ya ini Shawol dan para Taemint, buka mata lebar-lebar. Tonton gih baik-baik WGM dari awal sampai epsiode yang baru ini, lihat bener-bener. Lepas dari entah WGM ini hanya lah pura-pura atau apalah, di situ tetap terlihat jelas kalau Taemin yang sering nyebelin dan seringnya juga itu dilakukan secara ‘sengaja’.
image
Boleh deh situ ngaku shawol, ngaku Taemint, tapi nggak usah lebay gitu juga kali, sampai seolah-olah SHINee, terutama Taemin itu, makhluk tanpa noda tak berdosa. Mereka nggak sesempurna itu. Nggak seperfect itu.
Selalu kalian bilang, “Taemin itu dituntut menjelekkan image nya supaya Naeun dilihat sebagai malaikat.” “Taemin itu cuma diperkerjakan SM makanya dia gitu.” “Taemin itu selalu jadi yang ‘sengaja’ dikambinghitamkan di WGM biar begini begonom” dll.
Pada sok tahu itu yang ngomong -,,- Padahal mereka tahu yang benernya bagaimana juga kagak, hakhakhak (cuma bisa ngakak saya ngetawain mereka).
Emang situ kerja jadi staff di WGM ya? Emang situ bagian dari SMent ya? Emang situ managernya SHINee ya? Sampai tahu segitunya segala.
Kalau nggak tahu apa-apa, nggak usah sok tahu. Itu aja deh yang aku minta. Karena aku nggak mau nama Shawol jadi jelek cuma karena ada orang-orang yang kelakuannya begitu.
Ngomong-ngomong soal sandiwara, nah, banyak juga yang bilang WGM itu cuma script. Sampai pada maki Naeun begini: “Heh, Naeun, lo jangan kegeeran kali. Taemin tuh begitu sama lo karena tuntutan script dll..”
Jiaahhhh…. sok tahu lagi mereka :D
Hellow juga oranh sok tahu, tahu darimana itu script? Emang situ kerja di WGM? Atau situ penulis script nya? Jiahahah X))
Ngaku aja dah situ cuma kemakan omongan-omongan orang dan beberapa gosip kan ? Kkkkkk~
Yah aku nggak bilang juga sih kalau WGM itu gak pakai script alias real! Karena aku juga nggak tahu apa-apa, entah itu sandiwara atau bukan.
Tapi nih ya… setahu aku, semua acara TV itu pasti pakai script lah X))
Noh, Indonesian Idol, Master Chef aja juga pakai script, kok. Kalau nggak pakai script ya jalannya pasti gak beraturan dong -,- dan bisa jadi molor.
Jadi menurutku WGM itu juga sama kayak acara TV lain. Pakai script! Tapi juga nggak sepenuhnya script keleeuus -,- Yah separuh script separuh benaran lah.
Contoh nya WGM Taemin Naeun episode 1, pastinya discript memang dah diatur ketemunya di situ, Naeun yang datang dan duduk nunggu duluan. Itu pasti diatur discript lah -,-
Tapi kalau dialog mah sebagian besar ya ngalir seperti air lah, mereka mau ngomong apa juga terserah. Tapi kan saat mereka main naik boat, lalu makan daging, ya itu diatur script lah. Misalnya, “habis kalian naik boat, kalian makan di sini ya, makan ini, tapi manggang sendiri, bahannya udah disediakan.”
“Lalu habis makan, kalian jalan-jalan di pinggir pantai”
Ya itu ada diatur script lah. Tapi dialognya? Ya mereka ciptain sendiri, dan juga improvisasi kayak main lari-larian kejaran sama ombak, dll.
Kalau gak ada script, apa jadinya dunia, coba?? Berantakan! Taemin dan Naeun pasti bingung mau ngapain aja (kalau mereka dibiarkan mikir sendiri terserah mau ngapain, pasti jadi kacau, dan bisa-bisa syutingnya nggak berjalan lancar seharian). Lagian, emang dipikir syuting live itu enak? Kru dan kameramen kan harus ngikutin mereka ke sana-kemari. Kalau nggak ada script, kacau, dong, dan kru serta kameramen bisa kocar-kacir terpontang-panting.
Intinya sih, nggak usah pada sok tahu. Di sini, KITA, nggak ada yang tahu seperti apa di balik layar WGM, seperti apa perasaan Taemin sebenarnya, seperti apa perasaan Naeun sebenarnya. Cuma mereka sendiri dan Tuhannya yang tahu! Nggak usah lagi deh pada sok bilang “Taemin tuh cuma pura-pura, dia nggak suka sebenarnya syuting WGM sama Naeun” dll. Dih! -,-
Kalau kalian pada sakit hati gara-gara Taemin dibilang brengsek atau apa, boleh. Tapi kata-kata dijaga. Marah pada sesuai konteksnya, jangan melebar kemana-mana sampai-sampai segala caci maki buat Naeun keluar.
Taemin nggak sesempurna kayak malaikat. Dia nggak suci. Dia juga jelas ada kekurangannya, banyak dosanya. Begitu juga Naeun. Jadi, udah.. sama aja lah.
Lagian kalau kalian NGOTOT bilang WGM itu cuma script, yaudah anggap aja berarti kan air mata Naeun script juga, dan omongan yang dilontarkan salah satu staff itu ke Taemin, anggap aja udah diatur/disetting. Beres kan??
Kalau beropini jangan setengah-setengah! Kalau sekali bilang WGM itu cuma script, ya udah semuanya script. Sama ratakan. Kalau dah tahu gitu, ya terus kenapa buang energi caci maki Naeun? Kan itu cuma script?
Dasar…. fans alay, ababil.
image

Selasa, 24 September 2013

Semuanya Terlahir 'istimewa'

Diposting oleh Eka Suzanna di 10.05 0 komentar

“Permisi, dek… saya mau nanya, rumah sakit Bhayangkari dimana ya?”

Aku memperhatikan lelaki muda yang sedang mengajakku berbicara. Kalau melihat dari perawakannya yang mengenakan kemeja cokelat kotak-kota tanpa dikancing, memperlihatkan kaus dalamnya yang berwarna putih, dan rambutnya yang diberi gel, sepertinya ia seorang mahasiswa. Tapi, yeah, aku bisa saja salah.

“Dek?” tegurnya lagi, mungkin karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Aku menggigit bibir sejenak, dan batinku mulai berperang. Baru saja aku akan memutuskan untuk menanggapinya atau tidak, teguran seorang pria terdengar dari warung makan yang tak begitu jauh dari kami.

“Dek, nggak sopan banget, sih! Kalau orang nanya itu dijawab. Caria pa, Mas?” serunya.

Lelaki di hadapanku segera tersenyum sumringah setelah tadi sempat kesal padaku yang hanya diam membatu di hadapannya.  Ia bergegas menghampiri warung makan itu, dan bercakap sebentar, sebelum akhirnya pergi, mungkin karena sudah mendapatkan apa yang ia butuh.

“Dek,” tegur pria di warung makan itu, lagi. Aku memberikannya lirikan, tanpa benar-benar berani menatapnya. “Lain kali kalau ada orang minta bantuan, dijawab, dong. Kalau nggak tahu, kan, tinggal bilang nggak tahu. Sombong banget jadi cewek.”

Aku menarik napas sejenak, dan menghembuskannya hati-hati. Terselip perasaan tidak enak hati, tapi…. Bagaimana pun mereka tidak mengerti betapa sulitnya berada di posisiku.

“..m..mm..ma..maaf…, M..m..mas…” ujarku akhirnya, berusaha melafalkannya dengan baik, tapi tetap saja tak akan terdengar normal. “S..sa..ya.. b..bu..k..an..n..ny..a bber..m..mak..s..ss..ud.. s..om..bb..onn..ng..”

Pria itu terdiam ketika aku mulai bersuara. Dan aku tidak mungkin salah dengar, dari dalam warung makan itu, terdengar banyak orang yang sedang menahan tawa, mengatupkan bibir rapat-rapat, berusaha tidak menertawakanku terang-terangan. Tapi, tetap saja aku menyadarinya. Dan itu menyakitkan.

==

“Nan..” tegur ibu yang mendapatiku terduduk di kursi depan rumah, baru pulang sekolah dan belu melepaskan sepatu dan tas sekolahku. “Kenapa melamun?”

Aku sedikit mendongakkan kepala, menatap mata beliau sebentar, namun kemudian menggeleng pelan.

Sepertinya ibu menangkap kesedihanku di mataku, karena aku juga bisa menangkap sorot kecemasan di matanya. Namun, beliau selalu menjaga hatiku dengan sangat baik, sehingga tidak pernah berkata apa-apa, dan juga tak ingin terlalu banyak bertanya. Ia tahu, kalau aku memang ingin cerita, aku akan melakukannya nanti dengan sendirinya.

“Ya, sudah.. ayo, ganti baju sekolahnya. Nanti kotor. Ibu sudah siapkan itu, mie goreng dan telur dadar di atas meja. Di makan ya. Ibu mau siap-siap dulu.” 

Mataku masih mengekori ibuku yang kini sedang sibuk menggelar beberapa meja kecil di teras rumah. Sebentar lagi, pasti anak-anak yang mengaji bersama ibu akan datang. Aku segera melepaskan sepatu, kemudian masuk ke dalam rumah. Aku sengaja melambatkan langkahku. Pikiranku masih penuh dengan pertanyaan akan hidup ini. Pertanyaan yang selalu sama seperti kemarin, yang aku rasa tak akan pernah ada jawabannya. Kenapa aku harus berbeda dari manusia normal? Dulu, nenek dan Ibu selalu mengatakan bahwa berbeda, berarti istimewa. Tetapi, dimana letak keistimewaanku?

==
Aku mengelap bibir dengan tissue setelah menghabiskan segelas air putih dalam beberapa kali teguk. Perlahan aku bangkit, dan melangkah keluar rumah. Aku bisa mendengar suara ibu yang begitu lembut sedang menerangkan sesuatu pada anak didiknya. Bahasa ibu yang begitu santun, lembut, keibuan.. sangat terdengar menyenangkan. Aku bersandar di pinggir pintu dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan keributan, memperhatikan beberapa anak mungil itu yang terlihat cukup antusias memperhatikan ibu.

“… jangan sesekali menghina makhluk hidup yang lain. Kita semua sama. Tak berbeda. Kita sama-sama diciptakan oleh Tuhan.  Semua orang terlahir dengan tidak sempurna, dengan kelebihan dan kekurangannya. Itu rezeki kita masing-masing. Yang pasti, Tuhan telah menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya, dan tak ada ciptaannya yang tidak berguna. Apa yang dihasilkan dari tangan Tuhan, selalu istimewa..”

Tubuhku sedikit tergerak saat mendengar kata-kata ibu, dan tanpa sadar menimbulkan derit pintu.

“Loh, Nani?” Ibu sempat agak terkejut saat menolehkan kepalanya ke arahku, namun kemudian tersenyum lembut. Senyuman khas-nya yang sangat aku suka. “Sini,” ibu melambaikan tangan agar aku duduk mendekat di sebelahnya. “Mau nemanin ibu ngajar adek-adek ini?”

Aku tercenung sebentar menatap anak-anak itu. Seorang anak laki-laki , yang mungkin berusia 6-7 tahun, segera mendekat ke arahku sambil tersenyum lebar memperlihatkan satu giginya yang ompong. Aku lantas tertawa, kemudian mengangguk padanya untuk memulai mengaji.
Ibu, terima kasih karena sekali lagi mengingatkanku. Semua manusia tak ada yang sempurna. Tetapi, satu hal yang pasti, semua yang terlahir di dunia ini bukanlah sesuatu yang tak akan bisa berguna.

Minggu, 22 September 2013

Hidupku untuk Senyuman-mu

Diposting oleh Eka Suzanna di 02.34 0 komentar





Aku punya sedikit kisah untuk kalian yang tahun ini akan masuk kuliah, atau mungkin tahun depan. Dan, ini adalah kisahku. Mungkin saja ini bisa menjadi sebuah inspirasi..
            Ketika masih TK, masih berusia 4-5 tahun, saat masih senang-senangnya bermain ayunan dan pelesetan bersama kawan-kawan sebaya, bila diberikan pertanyaan oleh guru: “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa, anak-anak?”
“Dokter!”
Aku selalu menyerukan itu dengan lantangnya, bersama dengan hampir semua anak.
“Kenapa?”
“Biar bisa membantu banyak orang.”
“Bagus. Itu cita-cita yang mulia,” puji ibu guru.
Hal yang sama masih terlontar dari mulutku saat SD dan SMP. Ingin menjadi apa? Atau, apa cita-citanya? Maka, dengan penuh percaya diri dan sangat lantang, aku akan tetap menyerukan, “Dokter!” Selain karena ingin membantu banyak orang, kali ini bertambah satu alasan. Menjadi dokter itu, terlihatnya sangat keren!
Kemudian, tiba masanya aku menginjak bangku SMA. Masih sering terdengar pertanyaan yang sama dari orang-orang, walau dalam bentuk kalimat berbeda.
“Nanti kuliah mau masuk jurusan apa?”
“Kedokteran.” Jawabanku sangat mantap.
“Kenapa?”
Bedanya, kali ini aku tak bisa dengan penuh percaya diri menyebutkan alasannya. Sehingga, lebih sering aku hanya menggelengkan kepala dengan pelan. “Entah..”
Untuk membantu orang banyak? Atau hanya karena menjadi dokter itu, terlihat keren? Apapun itu, kedua alasan itu sudah bukan lagi menjadi tujuanku. Aku tak tahu, dan tak menemukan alasan kenapa aku harus menjadi dokter.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, hingga tidak terasa sudah saatnya aku kebingungan menentukan kelas jurusan. Aku akan masuk kelas apa? IPA, IPS, atau Bahasa? Aku bingung.
Pertanyaan-pertanyaan kepo masih terus bergulir.
“Mau masuk jurusan apa? IPA/IPS?”
            “IPS…” jawabku dengan nada melemah dan kurang yakin.
 “Kuliahnya ntar berencana mau lanjut kemana?”
“Nggak tau…” aku benar-benar menggelengkan kepala dengan lemah.
“Maunya ambil jurusan apa?”
“Hm….kedokteran..?”
Jawabanku terdengar seperti pertanyaan, kan? Yah, karena aku benar-benar penuh keraguan saat memutuskan menjawabnya.
Sebenarnya, saat itu aku sudah berniat ingin masuk jurusan komunikasi atau jurusan perfilman.. Karena, ternyata.. selama menjalani masa SMA kelas 1, aku tidak menemukan minat pada bidang IPA, walau aku sangat menyukai pelajaran Matematika. Tetapi, hanya Matematika. Aku benci pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, dan sejenisnya. See? Aku bukanlah anak yang ditakdirkan untuk menekuni bidang IPA. Walau aku belum terlalu pasti menemukan apa minat-bakatku sebenarnya, yang jelas IPA bukanlah impianku. Bukan pilihanku. Tetapi, orangtuaku menginginkan aku menjadi dokter, atau setidaknya seorang apoteker.
 Seandainya setiap orang tua memiliki sifat demokratis, dan memberikan anaknya kebebasan untuk memilih.
Mama menasihatiku, atau mungkin tepatnya berpesan: “Ypenting sekarang masuk saja dulu jurusan IPA. Siapa tahu nanti kamu setelah masuk jurusan IPA, berubah pikiran ingin menjadi apoteker misalnya..”
Ketika aku sempat kukuh memilih IPS, Mama memang tidak marah, tapi.. ia nyaris mendiamkanku seharian. Hm, mungkin tidak benar-benar mendiamkan. Kami masih berbicara baik, hanya saja ada yang tidak normal. Ada yang berubah. Tidak ada senyum bahagia di wajahnya, yang ada hanya sebuah raut kekecewaan.  Itu membuatku sangat sedih. Satu-satunya hal yang paling tidak bisa membuatku kuat adalah raut wajah Mama. Saat ia sedih, kecewa pada diriku, aku merasa sangat bersalah. Aku merasa diriku adalah orang yang paling tidak berguna. Kemudian, aku selalu merenung… selama ini apa yang telah kuberikan pada orangtuaku? Terutama pada ibuku. Tidak ada.. Beliau telah memberikan terlalu banyak padaku. Terlalu banyak. Tapi, apa aku pernah benar-benar memberikannya kebanggaan? Aku tidak pernah masuk peringkat 5 besar sejak aku SMP. Aku tak pernah membuat prestasi apa-apa. Yang kulakukan hanya sekolah, minta uang jajan untuk dihamburkan, dan memperlihatkan nilai raport yang cuma berkecukupan itu. Ibuku tak pernah menuntut apa-apa. Sekarang, ia hanya ingin aku masuk jurusan IPA, dan ingin aku menjadi dokter kelak. Sepanjang hidupnya sejak melahirkanku, setahuku baru kali ini lah ia mulai menuntut akan apa yang seharusnya menjadi hak hidupku.
Aku pun berbesar hati memutuskan masuk IPA. Keputusan yang sempat agak berat waktu itu.. tapi saat itu aku sudah tak memikirkan apapun lagi. Yang aku pikirkan hanya satu, membuat ibuku senang dan tersenyum. Dan, yeah, I got it. Her smile! :’)
 Rasanya sakit sih, menjalani apa yang sebenarnya tak aku inginkan,… tapi rasanya terbayar dengan senyuman beliau.
Pada dasarnya, orangtua hanya ingin anaknya bahagia dan tak terlalu terpuruk selama berjuang dalam hidup. Mereka bercermin pada apa yang terjadi dalam hidup mereka, dan tak ingin hal yang sama menimpa pada anak-anaknya. Sebisa mungkin, mereka ingin memperkecil kemungkinan akan anaknya terluka terlalu banyak dalam menjalani kehidupan yang sangat keras ini. Ingin memberikan pengaman terbaik agar anak-anaknya terselamatkan saat berpijak di kerikil-kerikil tajam.  Hanya itu yang bisa mereka lakukan, selama usia mereka belum berhenti, selama perjalanan waktu mereka masih terus berjalan, selama kedua mata mereka masih bisa memperhatikan pertumbuhan anaknya. Mereka ingin memberikan anaknya kehidupan yang berkualitas, semampu dan sekuat yang mereka bisa. Dan itu hanya karena satu alasan, mereka ingin kebahagiaan untuk anaknya.
Ibu, aku mengerti.. sangat mengerti. Semua ini demi kebaikanku.
Tetapi, Ibu.. ada satu hal yang mungkin engkau, dan para orangtua lainnya lupakan, bahwa sebuah paksaan tak akan bisa menghasilkan kebahagiaan, seberapa kuatpun usaha kita membangunnya.  
Ibu, saat ini aku memang tak mengerti dengan perjalanan hidup yang sedang kujalani. Aku sudah tak lagi menginginkan sebuah impian hidup. Aku bahkan tak pernah membayangkan, dan tak pernah mengharapkan akan menjadi seperti apa aku kelak. Saat ini, keinginanku hanya selalu tentangmu. Tidak ingin membuatmu kecewa, tidak ingin melihat raut kesedihan di wajahmu dalam setiap kegagalanku. Aku sekarang hanya ingin membahagiakanmu. Ini klise. Tapi, aku rasa semua anak di dunia ini menginginkan hal yang sama.
Jadi, Ibu.. izinkan aku membahagiakanmu. Sekarang, kalau aku boleh bertanya, haruskah aku terus melanjutkan skenario perjalanan hidup ini, yang dirancang sesuai dengan keinginanmu, bahkan walau kebahagiaanku sendiri terenggut? Walau aku sudah terlalu lelah menjalaninya? Karena, kebahagianmu prioritasku. Melihat senyummu, favoritku.


Selasa, 06 Maret 2012

Minjem atau Manfaatin!?

Diposting oleh Eka Suzanna di 08.17 0 komentar
Sepertinya selama hidup saya, lebih banyak orang yang 'meminjam' sesuatu pada saya dibandingkan saya yg meminjam sesuatu pada orang lain.

Dari jaman TK sampai sekarang.

Tidak banyak sih yang saya ingat detailnya.

Ketika SD, yang paling saya ingat adalah teman saya bernama Lia. Waktu itu kami kelas 1-2 SD. Dua tahun se kelas. Dan selama itu, sering pula setiap istirahat dia pinjam uang saya karena dia jarang dapat uang jajan, dan kalau pun jajan, terkadang lebih sedikit dari saya. *atau jangan2 sebenarnya dia jajannya banyak, tapi dia bohongin saya? Maybe..*

Dan tahu? Waktu itu saya masih kecil...tidak begitu mengerti utang-mengutang. Ditambah dengan sifat pelupa saya, dan ditambah sifat 'tidak tegaan' dan 'tidak enak hati' saya...jadilah...dia terus2an pinjam uang, dan tidak pernah mengembalikannya..

Kalau saya nagih, ada saja alasannya, yang uangnya belum ada lah.. apa lah.. sampai akhirnya saya melupakannya dan mengikhlaskannya..

Begitu juga dengan barang. Saya sering kehilangan penghapus, penggaris, pensil,... tapi hilang bukan karena teledor, melainkan hilang karena tidak dikembalikan oleh yang meminjam...yang saya pun lupa siapa saja yang pinjam hingga tidak bisa menagihnya T__T

Tragis.

Jadinya, saya dulu memang paling tidak betah punya barang. Baru beli, beberapa hari kemudian sudah hilang. Dalam setahun ada kali berpuluh kali saya beli pensil, penghapus, dan penggaris *lebay*

sampai mama saya suka mengomel, "Kenapa sih barang suka hilang? Coba barang itu dijaga baik2. Lihat saja..dulu waktu mama sekolah tuh penggaris dari kelas 1 sampai kelas 6, utuh. Nggak hilang dan nggak patah..."

Dan kalau sudah begini saya cuma speechless hehe. Untung selalu ada papa saya yang senang membela saya hehe.

Nah, nasib saya ini terus berlangsung ...

Kelas 3, 4, 5, dan 6 , SMP, dan SMA...selalu saja jadi tempat teman2 minta bantuan, apalagi kalau sudah uang..pasti lari ke saya T__T


Saya jadi bingung, apakah di kening saya ini tertulis 'bank berjalan'?

Nah... saya pikir di kampus, tidak akan terjadi hal seperti itu-itu lagi.

Eh...ternyata tetap saja ada ya... saya benar-benar tidak bisa lepas dari masalah ini kayaknya.. heheh *meringis*. Seolah-olah ini memang sudah garisan nasib..

Sekarang ini, saya malah punya banyak (beberapa teman)yang bolak balik minjam uang ke saya.

Salah satunya adalah teman dekat saya *lagi*.

 Yang satu, katakan lah, R. Dia teman satu jurusan, tapi tidak terlalu dekat dengan saya. Hm, dekat sih.. sering ngumpul bareng, tapi saya rasa kami tidak sedekat itu. (menurut saya dia bukan sahabat/teman dekat saya walau kami sering ngumpul bareng)

Kalau masalah curhat dan masalah2 berbau pribadi, dia lebih sering ngobrol ke temannya, tidak ke saya. Begitu juga saya, saya tidak pernah cerita2 masalah pribadi ke dia, paling hanya sebatas hal-hal umum saja yang saya dan dia bicarakan.

Tapi, anehnya.... suatu kali dia mendekati saya untuk curhat. Dia curhat masalah keluarga dan apa saja , membuat saya dalam hati terheran2. Tumben dia cerita ke saya?

Sampai pada akhirnya diai minjam uang 50.000, dengan alasan dia belum dikasih uang jajan, dan dia mau beli sesuatu barang 'penting' yang saya tidak tahu apakah itu. Saya tidak terlalu suka menanya2 hal-hal seperti itu, karena takut mengganggu privacynya. Jadi saya berikan saja tanpa banyak tanya.

Setiap saat dia selalu bilang akan ganti 'bulan depan'. Tapi begitu 'bulan depan' dia akan katakan lagi 'saya belum ada uang, ka. Bulan depan ya, saya janji.'

'bulan depan' kemudian ada lagi alasannya, sampai saya sendiri mulai malas menagih dan memutuskan untuk melupakannya saja.

Dan kemudian suatu kali dia cerita papanya kena PHK. Sudah 3 bulan tidak kerja, katanya. Dan dia butuh uang. 300.000.


Saya prihatin. Kasian sekali. Akhirnya saya pinjamkan, karena dia janji kalau 'pacarnya' gajian, dia akan ganti. Yang mana belum juga sampai sekarang diganti..

  Teman dekat saya, katakan lah E, lebih parah lagi dari R. Setiap kali selalu dan selalu lari ke saya kalau butuh uang. Memangg minjamnya sedikit2, kadang 10000 saja, kadang 5000 saja, kadang malah cuma 2000 saja. Paling tinggi adalah 20000. Tapiiiii....kalau begitu terus hampir setiap hari, kalau dikumpul2 itu berapaaa totalnya??

Mungkin karena E ini bisa dibilang teman dekat saya, jadi dia tak segan2 sama saya. Terlebih saya orangnya juga tidak bisa tegas kali ya?

Teman2 yang lain pun senang sekali  'meminjam' pulsa handphone. Terlebih beberapa diantara mereka tahu kalau saya pakai kartu prabayar. Makin getol saja mereka minjam tiap hari untuk nelpon.

Tapi memang kadang saya juga sih yang menyuruh mereka untuk nelpon. Kalau mereka minta pinjam untuk SMS,  Saya izinkan mereka pakai hp saya. "Telpon aja sekalian, susah nanti kalo SMS," kata saya.


Maksud hati karena saya mau cepat selesai urusannya. Kalau SMS kan nanti bolak balik mulu pinjam hp untuk balas-balasan -__-". Jadi mendingan langsung telpon.

 Saya sih bukannya nggak ikhlas...cuma heran saja.. sering banget mereka yang minjam2 itu (barang, uang, atau pulsa) adalah orang2 yg tidak begitu dekat dengan saya. Misalnya, kalau urusan jalan, shopping, atau menggosip, mereka lebih senang sama teman2 mereka. Tapi giliran minjam2, uang, barang, dan pulsa.. larinya ke saya. Why???

Ini memang bukan kali pertama teman2 saya meminjam uang saya. Sebelumnya, memang banyak yang meminjam sejumlah uang yang nominalnya cukup besar. walau sampai sekarang, yang bisa mereka kembalikan baru setengah dari jumlah yang mereka pinjam. Beberapa kali sempat saya tanyakan, tapi melihat keadaan, kadang saya jadi ga tega. Sampai akhirnya seperti biasa  saya belajar mengikhlaskan saja dan berpikir, "Alhamdulillah kalo dia bisa bayar, tapi jangan berharap terlalu banyak, deh. Ikhlaskan saja. Insya Allah nanti ada gantinya yang lebih baik.."

Saya bukan orang yang bisa bilang TIDAK. Dalam banyak hal, rasa iba lebih sering mengalahkan logika & keputusan saya. Hanya saja, belakangan ini saya merasa 'sedikit' dimanfaatkan. Entahlah, mungkin saya suuzon *astaghfirullah*, hanya saja melihat dari betapa seringnya mereka meminta tolong pada saya, sementara saya tau, kalau mereka sedang senang mereka tidak dengan saya dan lebih dekat dengan teman2nya yg lain, tapi giliran sedang susah malah saya yang didekatin. Mungkin karena 'mereka' tau, kalo saya paling ga bisa menolak.

hm...

Dan kata2 yang paling menohok adalah kata2 dari teman saya bernama M. M ini adalah teman dekat saya, dan juga teman dekat beberapa orang yang di atas (yang saya bilang sering minjam2 ke saya). Kemarin ketika kami sedang ngobrol berdua di rumah saya, sampailah kami pada pembicaraan soal 'pinjam'.

Karena kemarin, ketika kami asyik ngobrol..mendadak ada SMS masuk dari R *lagi*. Dan kebetulan M membaca SMS itu dan M kaget. "Ka, si R mau pinjam uang 500.000???"

Saya yang sudah biasa dengan R ini sih hanya santai. Sementara M tak percaya. "Banyak betul?? Kenapa?"

Akhirnya kami jadi bicara ngalor ngidul, dan saya curhat kalau saya agak kesal juga sama R karena senang minjam tapi tidak pernah kembalikan. Saya juga curhat tentang teman2 yg lain. Sampai akhirnya M nyeletuk.. "Kamu sadar nggak sih? Kalau mereka itu cuma memanfaatkan fasilitasmu?"

Saya diam.

Saya diam karena sebenarnya selama ini saya juga tahu itu, tapi tidak mau menyadari. Dan kini ada orang yang mengatakan itu di depan saya, membuat saya jadi sadar kalau...ah..ternyata benar. Ini nyata. Saya cuma dimanfaatin.

M: "aku bukannya mau fitnah atau apa... tapi aku kasih tau gini juga..karena aku bisa liat sendiri. Kamu liat kan? Kalau mereka sedang susah aja apa2 larinya ke kamu. Itu karena  mereka lihat kamu punya fasilitas lebih dari mereka. Dan kamu juga...terlalu baik *?*, Ka... makanya mereka jadi tidak segan2.."

Lalu pembicaraan kami tiba2 berubah haluan ke seorang teman. Sebut saja namanya Dilla. Dulu dia adalah teman kami juga, hanya saja dia keluar dari kampus, karena tidak kuat di farmasi *tidak kuat bergadang mengerjain laporan hehe*. Dilla ini anaknya tajir . keliatan banget memang. Sepertinya sih paling tajir di kelas kami waktu itu. Anaknya juga modis banget. Make upnya menor hehe. Tapi dia baiikkk banget :)

Dia seorang model.


Tapi entah kenapa sejak pertama kali dia masuk kuliah, tidak ada yang berteman dekat dengannya. Tidak menjauhi sih, tapi tidak juga berteman dekat. Setiap hari di kampus saya selalu lihat dia duduk sendirian. Tidak ada yang mengajaknya mengobrol. Kadang dia coba nimbrung..tapi teman2 cenderung ngomongin sesuatu yang tidak dia mengerti. Pokoknya kelihatan banget deh tidak ada yang niat jadi teman dekat dengannya. Akhirnya karena tidak enak, kadang saya selalu ngajak dia gabung dengan teman2 saya.

Tapi sepertinya sayangerti sih kenapa banyak yang tidak bisa dekat dengan dia.. karena saya sendiri pun tidak bisa dekat dengannya ^^;

Habisnya kadang kalau saya ajak bicara, pembicaraan kami suka tidak nyambung hehe. Maklum lah...saya kan anaknya rada2 katro..hehe..sedangkan dia modis banget. Aku jadi merasa kebanting setiap dekat dengannya heheh, jadi rada2 canggung juga ngobrol dengan dia. Tapi dia anaknya baiikkkk banget, dan sangat ramah .

Yang saya suka kasihan.. teman2 ngedeketin Dilla cuma kalau dia lagi bawa barang2 bagus, misalnya HP keren, laptop, atau apa lah.. Kelihatan banget dia cuma dimanfaatkan..karena dia dideketin cuma kalau lagi dibutuhin barangnya saja. Kalau sedang nggak dibutuhin, ya dilupakan..

Sekarang Dilla sudah tidak ada. :'(


Nah..sekarang, mengingat kasus Dilla dan juga kata2 Mia.. saya jadi berpikiran yang macam2.
Mungkin saya memang suuzon, tapi kalo bolak balik pinjem apa2 selalu ke saya, wajar ga ya kalo saya merasa dimanfaatkan?

Balikkin, dong!

Diposting oleh Eka Suzanna di 04.20 0 komentar
Rasanya hatiku selalu sakiiiitttt banget kalau ingat betapa banyak buku-buku (novel, komik, majalah, dll) yang hilang.

Dan hilangnya itu bukan karena aku teledor, tapi karena orang yang minjam menghilangkannya atau tidak mengembalikannya. Dipinjam abadi lah istilahnya.

Setiap mengingat hal ini, aku rasanya sakit hati banget. Walau terkadang aku hanya tersenyum manis dan berkata pada orang itu (yang menghilangkan buku-ku), "nggak apa-apa."

Itu sebenarnya bukan suara hatiku sebenarnya.

Oke, katakan lah aku munafik..

Tapi nyatanya aku memang tidak ikhlas.. Walau begitu aku juga berusaha baik dan mengikhlaskannya. Tapi mau bagaimana? Sudut hati terdalam rasanya masih tidak rela.. :(

Selalu mau menangis kalau ingat :'(

Katakan lah aku berlebihan, karena menangis cuma karena sebuah buku.

Tapi aku sungguh tidak rela.


pernah ada dialog seperti ini:

A: Maaf ya, bukumu hilang..

aku: Hah?

A: Aku ganti, deh.. berapa?

aku: ...*spechless*.. ngg...nggak usah.. nggak apa2.


See?

Katakan lah aku bodoh dan munafik.

Dalam hati aku sangat tidak rela, tapi di mulut aku berkata lain. Tapi aku mau minta ganti juga tidak enak hati. Dan menurut aku, harusnya mereka yang 'harus' bertanggung jawab itu mustinya sadar diri. Kenapa harus bertanya, 'aku ganti, deh... berapa?' . Tentu saja aku yang suka 'tidak enak hati' dan 'tidak tega', dan 'bodoh' ini akan menjawab 'tidak usah. nggak apa-apa, kok.' T__T

Harusnya mereka menggantinya tanpa harus bertanya lagi padaku (atau pada siapa pun itu yang barangnya mereka hilang kan).

Dan aku juga selalu sakit hati kalau baru menyadari sekarang bahwa ada novel-novel atau buku-buku ku yang tiba-tiba hilang tanpa aku sadari. Aku menyadarinya saat hendak membaca lagi buku itu. Dan setelah aku ingat-ingat...aku sama sekali tidak tahu siapa yang meminjam buku-yang-sudah-hilang-entah-kemana itu T__T

Oke... aku adalah Miss. Pikun. Siapa sih yang tidak tahu kalau aku sudah terkenal dengan gelar itu?

Dan aku benciiii banget sama sifatku yang satu ini, hiks..

Aku ini pelupa. Dan aku jadi sering tidak bisa ingat, siapa saja yang meminjam barangku..dan barang apa saja yang dipinjam..

Sifat buruk ini membuatku jadi sering kehilangan barang karena aku lupa menagih kembali barang yang dipinjam ...hiks..

Rasanya hati ini sakiiit banget...

Aku kecewa pada orang-orang yang meminjam barangku tapi tidak mengembalikannya, dan mereka memanfaatkan sifat pelupa ku ini :(

Yah...aku nggak su'udzon, kok. Dari dulu memang teman-teman senang banget memanfaatkan sifat pelupaku ini. Mereka akan meminjam barang padaku, dan begitu tahu aku melupakannya, maka mereka akan bersikap lupa juga, seolah-olah sama sekali tidak pernah meminjam apapun dari aku.

Dan suatu saat, begitu aku sudah ingat, kejadian itu sudah lama berlalu, dan mereka akan menjawab tegas, "aku sudah kembalikan kok dulu..waktu bla-bla-bla.."

Yang mana sebenarnya mereka belum kembalikan. Tapi mereka tahu aku akan percaya pada omongan mereka.

:(

Jelas saja aku percaya. Aku kan pelupa. Saat mereka berkata seperti itu, dengan bodohnya aku berpikir, 'oh iya..mereka sepertinya sudah kembalikan..'

Bodohnya aku :(

Sakit hati banget deh kalau diingat-ingat lagi..

Senin, 27 Februari 2012

Panggung Sandiwara?

Diposting oleh Eka Suzanna di 04.51 0 komentar
"Pemain teater itu biasanya orangnya rata-rata munafik."

well, apakah itu benar?

Entah lah.

Ketika kemarin seseorang berkata seperti itu padaku, aku cuma senyum-senyum saja. Habisnya bingung, entah apa yang dia bilang itu benar atau tidak. Aku ingin membantah... tapi ketika aku membantah, dia berkata lagi. "Ya iya kan, munafik. Mereka tuh bermuka dua. Kadang mereka bisa berubah-rubah menjadi orang lain, bukan dirinya. Membohongi banyak orang. Bla-bla-bla.."

Intinya sih, maksudnya dia itu..pemain teater itu mungkin sering bermuka dua (karena kan jago berperan), kadang walau hatinya berkata  lain, prilaku dan ekspresinya bisa lain.

Dan aku jadi mikir sekarang... benar kah?

Kalau dibilang aku jago bermuka dua, rasanya tidak juga, deh.Sampai sekarang ini aku masih tidak bisa menjadi sosok 'bukan eka' di depan orang-orang.

Aku kan paling tidak bisa teriak di depan orang. Sumpah. Suruh deh, aku teriak, suaraku tidak bakal nyampe, hehe. Kalau dulu di sekolah, suaraku tidak pernah nyampe ke telinga guru kalau misalnya aku sedang bertanya hehe. Begitu juga kalau aku manggil orang, pas misalnya berpapasan di jalan. Aku perasaan sudah teriak-teriak, tapi tidak didengar. Ternyata versi teriaknya aku dengan versi teriaknya mereka beda. Kalau aku bilang aku sedang teriak, mereka bilang itu bukan teriak, tapi bicara biasa. Kalau aku bicara biasa versi aku, kalau di versi mereka itu namanya semacam 'gumaman', hehehe.

Nah...aku pengen bisa teriak-teriak begitu,...kayak teman-teman itu... bisa heboh teriak-teriak... tapi kayaknya tidak bisa. Dan itu juga bukan eka banget. Walaupun menurutku aku sudah teriak, orang tetap bilang suaraku itu bukan teriakan.

Trus...Selain itu, juga tidak bisa marah-marah.

Pengen marah-marah begitu... tapi kok tidak bisa ya?

Aku juga terkenal tidak judes, dan baik.. (hehe, jangan diketawain ya. Itu beneran, loh).

Sampai temanku pernah bilang, kalau aku jadi senior ospek.. aku pasti bakal jadi senior paling baik, hahaha. Karena aku pasti yang paling tidak tega nyiksa anak orang hehe.

Dan aku juga tidak mungkin tega membentak-bentak anak orang -apalagi kalau sebenarnya tidak bersalah sama sekali..

Nah iya...aku juga terkenal tidak pernah membentak. Jangan kan membentak, marah-marah saja jarang. Kalau ngomel-ngomel, yah pernah sih..tapi masih wajar-wajar saja menurut mereka (belum bisa dikategorikan sebagai marah-marah, hehe).

Dan satu lagi..aku juga paling tidak bisa cepat bergaul dengan cowok-cowok. Cowok-cowok yang dimaksud di sini tentu yang tidak ada hubungan denganku. Misalnya, bukan teman sekelas..

Iya, memang begitu. Aku memang tidak bisa cepat bergaul dengan cowok. Tapi anehnya, kalau sama teman sejurusan aku bisa dekat.

Contohnya dulu, waktu pertama kali masuk kuliah, saat teman-teman cowok sejurusanku mendekati aku dan mengajak bicara, aku fine-fine saja, biasa saja. Padahal itu pertama kalinya kenal. Tapi, sama cowok-cowok dari jurusan atapun fakultas lain, aku cenderung menjauh. Kalau diajak ngobrol, aku terkesan menghindar, seperti ada perasaan takut gitu. Aneh ya? Aku juga bingung sama sifatku yang satu ini. hehe ^^;

Makanya, waktu OSPEK jadi banyak senior cowok yang tertarik goda-goda aku. -__-"
Iya, seniornya baik-baik sih ternyata.. jadi sekarang aku sudah tidak takut lagi, malah jadi akrab, hehe. Cuma aku suka lucu kalau ingat waktu dulu ospek aku suka sal-ting gitu kalau sudah digoda-godain senior cowok.

Salah satunya bilang, "kamu ini aneh. Bikin penasaran."

O.o maksudnya???

"Kamu kenapa selalu menjauh kalau didekatin?"

"Kamu kok diam saja sih, jarang bicara?"

"Suaramu kok lembut sih...apa tidak bisa teriak-teriak? Pengen dengar kamu teriak."

dll..dsb..dst..

Ya itu lah sosok ku (di mata orang) heheh. Get my point?

Tapiiii...anehnya, kalau aku di atas panggung (misalnya main teater, drama.. pokoknya acting lah), aku berubah 360 derajat.

Waktu dulu pertama kali aku main drama di kampus, awalnya aku ditunjuk jadi peran ibu-ibu -__-". Ibunya si tokoh utama, yang lembut, murah hati.. :p

Walau tidak suka peran itu, karena aku merasa aku ingin peran yang jauh lebih menantang, tapi aku sih terima-terima aja. Manut-manut aja, gitu. Menurut saja untuk memerankan peran itu. Awalnya sih aku mau dikasih peran judes, tapi mereka pada tidak yakin kalau aku mampu. Karena takut drama jadi berantakan, mereka ngasih aku peran yang menurut mereka sesuai dengan diriku.

Selama latihan, aku selalu salah. Suaraku yang tidak terdengar lah, (karena kalau drama kan dituntut harus nyaring). Acting yang kurang menjiwai lah..karena aku berkali-kali tertawa karena malu. Habis bagaimana tidak? Setiap aku mulai berperan, mereka tertawa.. mungkin karena lucu lihat aku hehehe. Nah karena banyak yang memperhatikan dan tertawa ya aku jadinya malu lah.. terus jadi salah terus. Dan aku memang tidak bisa acting kalau lawan mainku itu saat latihan, tidak serius, alias ketawa-ketiwi.

Tapi sehari menjelang tampil, si pemeran tokoh judes kecelakaan, jatuh dari motor. Tidak bisa tampil. Semua bingung, siapa yang harus menggantikan perannya si judes. Tidak ada yang bisa karena tidak ada yang hapal dialognya. Lagipula tidak akan sempat karena waktunya tinggal sehari lagi. Akhirnya Mia (yang saat itu) teman dekatku, menawarkan agar aku yang jadi tokoh judes itu. Karena aku yang buat naskah itu, ya aku hapal mati sama dialognya. Awalnya mereka ragu, tapi karena mungkin tidak ada pilihan lain... ya sudah, mereka setuju. Sementara peran ibu diambil alih temanku yang lain, Ayu. Kebetulan peran ibu tidak terlalu susah dan dia juga sangat pandai berimprovisasi. Jadi, kalaupun tidak terlalu hapal dialognya, dia bisa mengimbangi pemain lain.

Begitu pertunjukan....eng-ing-eng..semua deg-degan. Deg-degan karena Eka Suzanna yang terkenal kalem / klemek-klemek, akan bermain judes. Terlebih lagi si peran judes ini akan banyak judes dan 'berangasan'nya yang artinya suaranya harus nyaring/teriak-teriak. Mereka deg-degan, apakah suara Eka Suzanna bakal terdengar? hehe

Senior-senior yang menonton juga deg-degan. Mereka juga menantikan si Eka Suzanna, junior yang terkenal pendiam, kalem dan tidak banyak bacot, yang selalu senyum dan tidak pernah marah, yang manja dan kekanakkan ini, akan jadi si cewek judes yang agak 'tomboy' or berangasan.

Aku sendiri deg-degan sebenarnya, heheh. Berkali-kali aku tutup muka saat sedang bersiap-siap pentas...

Tapi..aneh.. begitu aku injak panggung, rasanya seperti ada roh apa gitu darimana merasuk tubuhku :p *bercanda* hehe. Aku benar-bener judes, muka dingin,...beda jauh dari sosok yang biasanya. Bahkan aku bisa teriak dengan sangat nyaring loh O.o

Senior-senior sampai pada kaget melihat sosokku yang berbeda dari biasanya.

Tapi begitu selesai tampil, aku langsung tutup muka, sumpah malu *mendadak rohnya hilang*. Senior-senior langsung ngerubungi aku dan bertanya-tanya terus..dan ada juga yang muji-muji aku. Aku malah makin malu dan salting kalau begitu.. hehehe ^^;

Banyak yang heran, kenapa aku bisa memerankannya tanpa ada salah, padahal tidak latihan (karena peran itu kan mendadak aku pegang sehari sebelum tampil), tapi aku mesem-mesem saja.

Iya..aku kan memang sudah suka acting sejak masih kecil, sejak SD. Jadi, aku ya...bukan pertama kalinya beracting. Mungkin itu lah aku tetap bisa memerankannya walau tidak pakai latihan (mungkin loh ini, aku juga sebenarnya tidak tahu kenapa bisa..hehe.. Mungkin ada roh yang merasuk atau apa :p)

Dan kalau masalah salah adegan atau dialog... hm, sebenarnya banyak salahnya, kok. Hehehe. Malah sejak scene awal sudah keluar jalur naskah. Aku banyak lupa dialognya. Tapi itu kan bisa ditutupin dengan mudah. Improvisasi. Yang penting inti ceritanya. Di panggung, aku kebanyakan berdialog tidak sesuai naskah.

Eh, melenceng dari topik -__-"

Ya begitu lah...dari dulu sampai sekarang, entah kenapa ya aku kalau di panggung bisa jadi sosok yang lain.

Aku kadang pengen loh jadi sosok yang lain tidak hanya di panggung. Misalnya, saat aku ketemu cowok-cowok rese (hehe), rasanya ingin jadi sosok lain yang bisa membentak "HEH! Lo cari mati ya sama gue? Gue kan udah bilang berkali-kali! Gue nggak suka sama lo! Ngerti bahasa Indonesia nggak sih???" (Jiaahhh, sinetron amat yak ni dialog, hahahah XD)

Huaahh...tidak mungkin ya aku bakal bisa teriak dan memaki kayak gitu~ hehehehe

Sekarang aku kembali berfikir... kenapa ya orang itu berkata seperti itu... "bahwa anak teater=MUNAFIK"?

Apa dia sebenarnya ingin menegurku secara halus? Atau bagaimana?

Apa maksudnya... selama ini aku bukan jadi diriku sendiri? O.o

*serius nanya*

Karena memang kadang aku sendiri bingung..diriku yang sebenarnya yang seperti apa ya? hehe


Duluuuu banget, waktu pertama kali aku membuat Sakura Lover, naskah itu aku sebar di kelas dan juga di teman-teman lain yang di luar kelas. Ramai juga yang baca dan koment..dan kalau sedang kumat gilanya, beberapa temanku suka memperebutkan sosok cowok-cowok itu *?*. "Aku Tedy, aku Fakhrul" *FYI: waktu itu memang yang populer cuma karakter 2 cowok ini*

Trus, kalau aku juga sedang kumat gilanya, aku meladeni mereka. "Ambil saja. Yang penting jangan ambil Andy. He is mine!" hehehe ;p.

Lalu kalau sudah membahas karakter cewek.. ada yang bilang aku mirip Renny, ada yang bilang mirip Widya (ini u/ teman-teman yang pernah melihat sosok aku yang bawel, cerewet, judes) , ada juga yang bilang mirip Mel. Kalau aku bilang gini..."Aku mirip Renny", sebagan besar membantah keras.

"Nggak ada mirip-miripnya!!! Renny tuh kalem, tenang, diam, feminim. Kau apaan..? Cerewet, bawel,  cepat ngambek, bla-bla"

Tapi kalau pun aku ngaku kayak Widya, maka sebagian yang lain lagi protes keras. "JAUUH! Widya mah berani anaknya. Kau apaan? Maju ke depan kelas saja takut, kalau ngomong suaranya nggak kedengaran, nggak pernah bisa marah-marah. Kalau Widya kan Ratunya marah-marah. bla-bla"

See? Regu atas dan regu bawah sangat bertentangan pendapatnya, hehe.

Dan aku tidak bisa bilang yang mana yag salah..yang mana yang bener. Karena....sepertinya yang mereka bilang semua benar.

Jadi..sosokku yang sebenarnya yang mana ya? O.o

Sabtu, 25 Februari 2012

Hamil dan aborsi, jadi TREND (di kampusku)!

Diposting oleh Eka Suzanna di 01.35 0 komentar
Hm...sampai sekarang aku masih speechless..

Ingat nggak, kenapa kemarin aku bilang 'sepertinya sudah jadi trend, hamil di luar nikah'. Itu karena hal itu terjadi di kampusku. Tiga orang!

*masih shock*

Aku baru tau dari teman, kalau salah satu temanku sebut saja N, melakukan aborsi. -__-"
Aduh, sumpah waktu dengar itu aku kaget setengah mati. Mana ngasih taunya pas lagi mau turun angkot, sampai aku hampir kepeleset -__-"

Saat diberitahu begitu aku tidak bisa langsung percaya. Sangat susah sekali rasanya mau percaya. Berkali-kali aku pertegas pertanyaan ku, "kamu tidak bohong kan?" "INi nggak beneran kan?" "Masa sih?"

dan temanku itu juga berkali2 mempertegas jawabannya "Betul!"

....

Dan temanku cerita panjang lebar dan aku cuma bisa melongo.

Jadi kejadiannya itu (dia aborsi) waktu bulan Desember.
Hm, pantas saja waktu itu facebooknya statusnya rada aneh. Pertama waktu bulan Oktober, dia bikin status "stresss! bagaimana ini???"

Dan status-status lain yang isinya selalu stress.

Tapi pas bulan Desember, dia bikin status "Aahh...bisa kembali bernapas lega". dan seterus-seterusnya statusnya selalu berbunyi bahagia, nggak pernah stress lagi.

Nah, aku baru tahu kemarin! Kalau ternyata dia ketahuan hamil pas bulan Oktoberr, karena gejala-gejalanya, menstruasi nggak datang, suka muntah-muntah begitu..dll.

Temanku, si I lama-lama curiga (karena kebetulan mereka satu kost) ngeliat N sellu mual dan sering buang ludah, dan akhirnya desak-desak N untuk cerita. N pun lama-lama jujur bilang kalau dia hamil sudah mau 2 bulan -__-"

Kenapa aku bisa tidak tahu? Karena waktu bulan Oktober itu aku masih di luar kota, hehe.

Waktu itu sempat N sakit perut, dan dia akhirnya periksa ke bidan dengan ditemani I. N sempat dimarahin sama bidan karena bidan tahu dia pasti hamil di luar nikah. Tapi N berbohong, mengaku ke bidan itu kalau dia sudah punya suami. Dan waktu itu sama sekali nggak ada gangguan sama kehamilannya, dia pun diberi obat.

N dan D (pacarnya) karena stress tidak tahu harus bagaimana, memutuskan untuk aborsi. *aku nggak tau mereka aborsinya dimana* pada bulan Desember.

D mengaku kalau mereka melakukannya 3 kali (yang akhirnya memperoleh hasil).

3 kali?? *syok*, Di rumah D pula!

Dan tau nggak? Setelah aborsi, muka mereka seperti tidak berdosa... HAPPY!

Padahal waktu belum digugurkan, setiap hari muka stress dan berkali-kali bilang, "Ampun Tuhan...cobaan apa ini" dengan nada penuh sesal.

Heran.. Kok ya masih yebut nama Tuhan mohon ampun, dan masih juga tanya 'cobaan apa ini' , memangnya nggak nyadar kenapa dia dikasih cobaan begitu? -_-
 
Berkali-kali dia ngucap nama Tuhan.. dan setelah aborsi...HAPPY, deh..trus lupa dengan ucapan-ucapan itu.

Huft...aku sampai sekarang tidak habis pikir.

Jujur, yang bikin aku syok dan benar-benar kecewa, bukan N. Tapi, D!

Dulu aku sangat kagum pada D, karena D itu anaknya alim *yang aku lihat*, rajin beribadah, pintar baca al quran...dan aku lihat dia dari keluarga baik-baik.

Dan...sekarang jadi seperti ini?? Oh Tuhan...aku benar-benar sampai sekarang tidak bisa percaya ini -__-"

Kalau N sih aku tidak merasa aneh lagi, dari dulu aku juga sudah tahu dia tipe cewek seperti apa. Yang aku sayangkan dulu adalah waktu D mencintai  N. D itu cinta mati banget sama N. Dan mereka berpacaran. Dulu aku sudah merasa...bisa-bisa bukan D yang membawa N ke jalan kebaikan, tapi N yang menjerumuskan D. Nah..terbuktkan....jadinya begini...

Sebenarnya sejak awal mereka pacaran aku merasa sudah bisa menduga kalau ujung-ujungnya akan seperti ini.. karena aku bisa lihat mereka terlalu sering melakukan KNP selama pacaran.

Dalam hatiku waktu itu "kalau sering2 KNP sih, pasti nih...pasti nih ujung-ujungnya ntar I juga."

Dan..ternyata benar dugaanku -__-"

Hhh...aku benar-benar kecewa rasanya.

Rasanya aku jadi turut merasa bersalah. Aku takut kalau aku adalah salah satu pemicu faktor hingga mereka sampai melakukan 'itu'.

Benaran deh...terkadang aku jadi merasa bersalah kalau ingat...

Belum lagi shockku hilang, Eh.. si B, temanku, dan dia sahabat N, juga hamil. Bulan ini sudah 2 bulan! Belum digugurkan..tapi ada rencana (semoga dia berubah pikiran, deh)... karena pacarnya belum bisa bertanggung jawab untuk saat ini karena pacarnya anak IPDN, jadi B memutuskan untuk menggugurkan..

hhh.... *terduduk syok*

Kemudian teman ku yang satu lagi, A, juga sudah menggugurkan kandungannya tanpa sepengetahuanku.  Dia mengakunya sih keguguran.. tapi entahlah...aku tak percaya.

hh...

Itu lah kenapa aku sangat senang tinggal sendiri. Dulu N, B, dan A selalu mengajak aku untuk ngekost bareng..tapi aku menolak dan memutuskan untuk tinggal sendiri. Alasanku ke mereka karena aku dilarang mamaku ngekost. Tapi sebenarnya alasanku adalah, aku tidak mau ngekost campur, karena rasanya tidak nyaman. Terlebih kalau anak-anak kostnya seperti mereka.

Bukannya aku takut terjerumus juga.. *aku percaya kalau kita masih beriman, hal itu tidak akan terjadi walau di sekeliling banyak setan*, yang aku tidak suka adalah... gaya hidup mereka.

Malam-malam masih bawa cowok ke kamar (karena tempat tinggalnya bebas)... terus nggak tidur sampai laruuut malam,

Aku juga sih suka tidur larut malam..tapi itu paling karena baca buku (novel), main internet sendiri, nulis.. atau apa... bukannya nongkrong ngarol-ngidul, sambil merokok, sambil makan dan minum (apalagi kalau sudah minum alkohol)...

Belum lagi, kalau tinggal bersama..biasanya akan terjadi perampokan...

Terbukti, seminggu yang lalu, temanku yang si I itu, uangnya dicuri sama N! Lalu di bawa kabur!

Temanku yang namanya E, juga pernah atm-nya dirampok N, dan uangnya ludes!

Itu..makanya aku tidak senang ngekost.

Itu lah kenapa...walau di sekitar tempat tinggalku banyak cowok aneh, tapi aku tetap bertahan tinggal hehehehe *lirik postingan sebelumnya*

Rasanya lebih aman sendiri, daripada tinggal bareng teman kampus tapi kelakuan mereka seperti itu.

Huhf.. *masih shock dan kecewa*. Aku saja ingin punya bayi.. mereka malah menggugurkan -calon- bayi tak berdosa itu.

Terima kasih kunjungannya~ :)

 

bOLLywood-giRL.coM © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor